[cerpen] Kartu Merah Jambu Penuh Cinta by bintang

Perkenalkan. Aku Reva. Reva Anastasya. Putri sulung dari keluarga terpandang di bilangan Bintaro, Jakarta. Ketika ayahku dipindah tugaskan untuk menjadi Kapolda Jawabarat, kami sekeluarga menetap di kota yang terkenal dengan nama Paris Van Java. Tapi, bukan itu alasanku satu-satunya untuk tinggal di kota kembang ini, dengan bangga Aku berkata bahwa kini Aku berkuliah di Institut yang menjadi kebanggan setiap orang tua, bersama dengan symbol gajahnya yang kentara. ITB. Tepatnya di fAkultas yang bernama Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika.

“ Reva…Dad pergi dulu ya sayang…Jangan lupa antarkan Mia ke sekolah” panggilan Dad menghentikan lincahnya tangan ku yang sedang asik memainkan game di Laptop. “oke Dad, jangan lupa oleh olehnya…” ucapku sambil tersenyum nakal dan menggapai tangan Dad. Bergegas Aku bersiap merapihkan tas untuk pergi bersama Mia ke sekolahnya. Adik bungsuku itu memang bertingkah sedikit aneh belakangan ini. Sejak masuk organisasi yang bernama Rohis (rohani dan keislaman) di SMAnya, mendadak kerudungnya menjadi sangat tertutup. Selama ramadhan hobinya ngaji melulu, belum lagi kebiasaannya bangun tengah malam dan membaca Qur’an semalam suntuk. Pernah sesekali Aku memergokinya tertidur di lantai sambil meringkuk kearah kiblat, “ Rasullulah tidurnya juga tidak beralas dan menghadap kiblat kak Reva” jawaban yang membuat ku keheranan di tengah kasur empuk dalam kamar mewah milik kami berdua. Ah, tapi apa perduliku masih terlalu banyak tugas yang harus Aku kerjakan. Dad pun tidak terlalu mempermaslahkan perubahan Mia selama dia tidak terjerumus ke hal-hal yang menyesatkan.

“ Mia… cepetan dong! nanti telat nih ” suara lantangku menggedor pintu kamar kami yang kini bertuliskan say assalamualaykum before you come in. Tidak ada jawaban dari balik kamar itu. Segera otakku berfikir cepat dengan kebiasaan-kebiasaan barunya kini, Aku rasa Aku tau password yang bisa membuatnya bicara. “ assalamualaykum Mia, cepetan donk!”. Barulah suara merdu datang berbalas. “ waalaykumsalam, iya, nanti Mia langsung ke mobil” suara yang terdengar lemah dan sedikit parau. “Ah, paling menangisi Qur’an lagi” gumamku dalam hati.Bergegas pergi.

“kamu kenapa lagi Dik? Matanya sembab begitu? Pasti nangis tengah malem lagi ya?” membuka pembicaraan sambil membetulkan pengharum mobil yang posisinya sdikit tersenggol. “mantanya bengkak-bengkak berkantung item, hiiiyeey..serem , hehe” ucapku sambil tertawa sedikit meledek. Tapi sosok itu nampak kian larut dalam kesedihannya. “ kok gak di jawab sih Dik?” tanyAku lagi penasaran. “ kakak kelasnya Mia kemarin kecelakaan kak, sewaktu membawakan makanan untuk berbuka puasa buat keluarganya. Tadi malam Mia berdoa biar beliau cepat sembuh” sedikit berkaca-kaca. “ oh,…hmm…maaf yah” Aku hanya membalas sekadarnya, merasa bersalah. Mobilpun masih melaju pelan, menyesuaikan dengan padatnya jalanan. Tak berapa lama kami tiba di parkiran SMAN 2 Bandung. Baru dua tahun adikku bersekolah disana sudah banyak sekali yang berubah. Terlebih selama Ramadhan, Baju dan celana jeans warisanku malah di kilonya ke tukang lowak. Dibilangnya untuk membantu anak-anak yatim piatu di masjid sekitar rumah. Ada-ada saja. Tapi, Aku sama sekali tidak pernah merasa penasaran akan hal yang membuatnya berubah.

“ Mia sekolah dulu ya Kak ” . seketika senyum manis itu mengembang. Tanggannya menggapai tangan ku, lalu pipi merah jambunya di dekatkan ke pipiku, “assalamulaikum kak, semangat ya belajarnya”. Selain membalas salam yang di ucapkannya Aku hanya bisa menyeritkan dahi. Sungguh cara berpamitan yang cukup aneh buatku. Segera Aku lajukan lagi mobil sedan putih yang baru saja dibelikan ayah sebagai hadiah ulang tahunku tahun ini. Waktupun berlalu seperti biasa. Di iringi lagu Clarity By John Mayer yang tidak akan pernah membuatku bosan untuk mendengarkannya. Yup, bersiap menghadapi hiruk pikiuk kampus sambil sesekali membetulkan posisi kerudung ku yang Aku lilitkan ke leher.

***

“ Reva, jaga Mia baik-baik selama Dad pergi. Jangan lupa ingetin si Mbok buat beresin lemari kamar Mom yang baru dipindah ke kamar tamu”. “ Yes, sir..!” dengan berlagak seperi tentara, kamipun tertawa berdua. Selama satu minggu Dad akan berdinas di luar kota. “Takecare and Love you Much Dad” pelukan manjAku pada Dad mengantarkannya pergi ke bandara, sementara Mia melepas kepergian Dad dengan mencium keningnya sambil berbisik “ Love you coz Allah my lovely Abi “. Berpelukan bersama.“Hummmf…Minggu ini pasti sepi sekali”. Gumamku dalam hati.

Sesampainya di rumah, Mia menghampiriku sambil membawakan susu coklat hangat. Sebuah kebiasaan yang biasanya ampuh ketika merayuku . “mau minta apa Dik?” tanyaku sambil meledek. “ hehe, kak Reva memang tau saja sama Mia”. Senyum manisnya mengmbang sambil melingkarkan tangan dengan manja ke bahuku. “ kak, anterin Mia ke Rumah sakit Hasan Sadikin dong, Mia pengen nengok kakak kelasnya Mia yang kecelakaan”. belum selesai Mia bercerita Aku sudah bergumam dalam hati, “kenapa musti mengajak Aku?”. “Mau temenin yah kak?” mata bulatnya terlihat berkaca kaca. Mengharap Aku akan sudi untuk menemaninya barang sebentar saja. Aku masam-masam saja. Malas. “ Mau yah kak? Plizzz…Cuma sebentar kok”. Jarak rumah kami memang cukup jauh dari Hasan Sadikin, tapi bukan itu yang membuatku tidak ingin mengantarkannya. Aku sangat tidak menyukai rumah sakit, sejak Mom meninggal saat melahirkan Mia. Mungkin Mia tidak akan paham bagaimana rasanya, jelas dia terlalu kecil untuk bisa mengingat Mom. “hmm…baiklah, sebentar saja ya” Ingin sekali Aku menolak dengan alasan sibuk akan tugas-tugas kuliah atau apapun yang bisa membuatku tidak terlibat didalamnya, namun entah kenapa hari itu semuanya terasa sedikit berbeda, bukan karena susu coklat yang menjadi umpan dari Mia, hanya saja hari itu memang terasa sangat berbeda. Seberkas cahanya langitpun melesat ke bumi. Bersiap untuk hinggap di sebuah hati.

***

Hari yang Aku janjikanpun tiba. Matahari kian merona dengan menghiasi senja di bawah lembayung jingga sepanjang angkasa. Untunglah hari ini tidak ada matakuliah yang harus membuatku berfikir ekstra keras dan kelelahan untuk mendatangi tempat yang menyimpan sebuah kepahitan. Tepat setelah shalat ashar kami berdua menuju rumah sakit di bagian rawat intensif. Tak lupa Aku menyelipkan dua bungkus roti dan susu untuk berjaga-jaga jika kami harus berbuka di tengah jalan. Sesampainya disana, Aku bergumam dalam hati. Ramai sekali. Kenapa begitu banyak orang yang datang untuk menjenguk?. Mereka semua nampak mengantri diluar ruang rawat sambil duduk-duduk atau membaca Al-Qur’an. Berusaha tetap menjaga ketenangan.

Assalamualaykum ” Sapa Mia sambil tersenyum lembut mencairkan suasana. mencoba menghibur siapapun yang berada dalam duka disana. Seketika kami sudah berada di kamar yang penuh dengan nuansa hijau. Aku melihat dengan seksama, di luar masih saja berdatangan orang yang hendak membesuk sambil menunggu giliran untuk bisa menjenguk barang sebentar. Hanya beberapa orang saja yang diizinkan secara bergantian untuk melihat kondisi pasien yang masih nampak lemah. Mataku menjelajahi ruangan dan membaca kartu pasien yang tergantung di ujung ranjangnya. Ada hal yang membuatku sedikit tersentak. Nama pasien ini Reva, Reva Mutiara. Kami berdua memiliki nama yang sama. Aku meliriknya dengan sebuah tatapan lekat. Selang infusnya nampak sedikit keruh karena darah. Sekujur tubuhnya nampak luka parah. Belum lagi selang-selang alat bantu pernafasan yang membuat kondisinya kian tampak menyedihkan. “Mbak Reva, ini Mia datang sama kakaknya Mia, namanya sama-sama Reva”. Sapaan Mia tidak berbalas. Sosok yang terkulai lemah dihadapannya nampak tidak bergeming. Tapi, ada hal yang menarik perhatianku dan sempat membuatku sangat keheranan. Senyuman. Di balik memar dan darah yang menggumpal membengkanan wajahnya. Ada sebersit senyuman tenang. Aneh.

“ Sabar ya tante, Mbak Reva adalah Akhwat yang kuat. insyaallah, Allah akan menjaganya” ucap Mia yang berusaha menenangkan bundanya Reva dan berbalas dengan senyum alakadarnya. Tak mampu menyembunyikan kesedihan. Aku, hanya diam saja. Pelukan dari Mia untuk tante menjadi tanda kami berpamitan. “Mia pulang dulu ya tante, assalamualykum”. Kamipun melangkah pergi setelah melalui saat yang singkat di rumah sakit. Bersama temaram Bandung yang dipenuhi dengan lampu jalan Aku melaju pelan dalam mobil putih yang ACnya Aku matikan. Dingin. “Dik, kok gak bilang-bilang namanya sama dengan kaka? Kaka jadi mikir, gimana kalau yang berbaring disana itu benar-benar kaka?” Mia hanya membalasnya dengan senyuman. “ah kaka, suka ada-ada saja” sebuah jawaban yang sama sekali tidak membuatku terbantu untuk menengkan diri. “ kok tadi ramai sekali ya yang datang? sampai rela mengantri” . Mia termenung sekejap. Merangkai kata-kata yang tepat untuk menjawab. “Mungkin karena Mbak Reva itu orang yang sangat dicintai oleh siapapun kak”. Deg. Hatiku tersentak. “ Selama Ramadhan beliau mengajar Tahsin untuk anak-anak dan semua uang hasil mengajar tahsin itu diberikan untuk memembantu orantuanya. Sehabis tarawih beliau selalu membantu seorang kakek tua buta untuk pulang ke pondok yang tidak jauh dari rumahnya “. “oh…” Aku hanya menjawab alakadarnya. Sedikit kagum. Sedikit kecewa. Kagum karena di usianya yang jauh lebih muda dariku, Reva Mutiara sudah bisa memberikan kerja kerasnya untuk orang-orang yang dia cinta. Kecewa karena Reva Anastasya sama sekali tidak pernah berfikir untuk mau melakukannya. Satu lagi cahanya lagit turun dan menembus angkasa bersama larutnya malam di bulan penuh keberkahan. Bersiap untuk menyentuh hati hamba-hambaNya yang menyerahkan diri.

Kamipun segera tiba di gerbang rumah yang kini tampak lengang. Masih tidak habis fikir tentang semua yang baru saja Aku alami. Tentang Reva, senyumannya dan antrian panjang di rumah sakit. “Seandainya Aku yang berada disana, akankah Aku menjadi seseorang yang sangat dicintai seperti Reva. Padahal, kami berdua sama-sama Reva” Gumamku dalam hati. Lembaran sajadahpun Aku lipat setelah shalat tarawih, bermunajat dan membaca Al-qur’an. Sebuah kitab yang kadang Aku sendiri tidak memahaminya, terlebih untuk mengamalkannya meski Aku membacanya.

Tertidur lelap. Menutup hari pertama dan terakhir perjumpaanku dengan Reva.

Keesokan harinya. “ kak Reva, Hiks…” Mia menyambut kepulanganku dari kampus dengan mata sembab berkaca-kaca. “ Mbak Reva baru aja pulang ke sisi Allah”. Tangisanpun pecah. Aku hanya bisa merangkul Mia setengah tidak percaya. Sosok yang baru Aku kagumi itu tengah tiada. Innalilahiwainnailahirajiun. Kami berdua larut dalam duka meski Aku sama sekali tidak pernah mengenal sosok Reva yang satunya.

***

Seminggu setelah hari itu. Masjid-masjid mulai sepi. Sayup sayup masih terdengar suara orang-orang mengaji di malam-malam terakhir Ramadhan. Orang bilang bilang bulan ini penuh dengan keberkahan, rahmat dan ampunan, tapi tetap saja Aku merasakan sebuah kehampaan yang mendalam. Sepi. Tidak ada yang terasa istimewa buatku di bulan ini. Semuanya Aku lalui begitu saja. Entah, mungkin Aku sendirilah yang tidak pernah bersungguh-sungguh mencariNYA. Akupun merapihkan mukena yang masih membalut manis sehabis tarawih bersama Mia tadi malam. “apa itu Dik?” perhatianku tertuju ke sebuah lembaran merah jampu yang sedang dibaca oleh Mia. “ oh, ini surat terakhir dari Mbak Reva untuk keluarganya Kak, Mia ingin menulis tentang mbak Reva di blognya Mia”. Surat? Rasa ingin tauku kian menyeruak. “Coba kaka lihat” penasaranku makin menjadi jadi saat membaca tulisan mungil di pojok kiri atas. “Untuk ayah dan budaku tercinta” dan lembaran merah jambu itupun terbaca.

Assalamualaykum Ayah Bunda tercinta,

Sebelumnya Reva minta maaf karena tidak bisa selalu ada di samping ayah dan bunda, tidak bisa membuat ayah dan bunda bangga. Perpisahan ini terasa kian dekat karena setiap yang bernyawa pasti akan pulang kepadaNya. Tapi, Reva sungguh bahagia bisa bersama kalian di detik detik terakhir yang tersisa. Dalam Ramadhan yang Reva cinta. Di bawah sayup sayup suara-suara yang sedang bermunajat kepadaNya. Allah begitu menyayangi Reva karna membuat Reva melihat begitu banyak cahaya di bulanNya yang mulia. Di saat inilah Reva merasa begitu tenang. Ayah dan bunda telah membesarkan Reva dengan penuh kasih sayang. Tidak ada lagi yang membuat Reva merasa kurang. Sekarang Reva ingin mempercayakan hati dan diri Reva hanya pada Allah, hanya Dia penjaga yang tidak pernah mengecewakan siapapun yang bergantung padaNYA. Jika ada waktu untuk sekedar menengok ke luar, manatapi angkasa yang penuh dengan gemerlap bintang. Maka ayah dan bunda akan menemukan Reva berada di sana. Di tempat terindah di sisi Nya.

Reva Mutiara

Di bait-bait berikutnya surat itupun berbalas.

Untuk putri kami yang tercinta.

Engkau tidak pernah membuat kami kecewa. Engkau selalu menjadi kebanggaan kami semua. Kami sungguh bersyukur menerima karunia kehadiranmu yang telah memberikan banyak bahagia. Selamat jalan sayang, teriring cinta dan doa hanya karena Allah semata.

Ayah dan Bunda

Buliran air matakupun terus menetes. Sebuah prasangka yang sangat indah dalam neghadapi takdir dan ujianNya. Perlahan Mia melangkah pergi, membiarkanku meresapi makna-makna yang tersembunyi. Membiarkanku menangis sendiri. Sibuk dengan pikiran-pikiran yang mulai buncah dalam hati. “Seandainya yang kini berada disisiNYA adalah Aku. Akankah Aku begitu dicintai” . Sayup suara adzanpun terdengar lantang menuju jiwa. Ada kehangatan yang timbul disana. Ah, masih ada yang memaknai takdirmu dengan begitu indah. “Aku ingin menjadi seperti Reva Ya Allah. Ingin menjadi salah satu kekasihMu dengan hati dan keikhlasan yang membuatMu sudik melirik ke arahku. “ Akupun menagis sepuas-puasnya, sejadi-jadinya, sebisa-bisanya sebuah mata mengeluarkan air mata. Merintih, sebisa-bisanya sebuah hati yang meratap pedih. Melepaskan kerinduan padaNya dalam sebuah sujud panjang menyadari akan kelalaian diri selama ini. “ ya Allah maafkan Reva. Reva, ingin kembali…” sajadah itu menjadi saksi kembalinya seorang hamba di bulanMu yang mulia. Dan cahaya langit telah sampai di hati Reva dari sebuah kartu merah jambu yang penuh cinta.

Esoknya. Kerudung yang biasa Aku liltkan ke leher segera Aku longgarkan. Jeans-jeans ketat itu Aku tanggalkan dengan balutan gamis manis yang longgar. Mia memelukku dengan lembut seraya berkata . “allhamdulliah ya Allah” . Sungguh Ramadhan ini terasa begitu bermakna karena hidayahmu yang penuh dengan cinta. Kini rumah kami terasa sedikit berbeda. Aku, Mia dan Dad lebih banyak mengabiskan waktu bersama. Membaca tiap lembaran kalamNYA penuh syahdu dan meresapi setiap makna. Bagiku kalamNYA adalah surat cinta yang mampu mengubahku seperti surat merah jambu milik Reva. Akupun terlahir menjadi Reva Anastasia bersamaan dengan perginya Reva Mutiara di syahdunya hari-hari terakhir RamadhanMu yang mulia. “Aku ingin, jika Aku mati nanti, Aku menjadi sosok yang juga sangat dicintai”. Lalu cahaya lagitpun kian banyak menembus bumi. Bersiap menyentuh hati hamba-hambaNya yang siap memasrahkan diri.

Selesai.

Advertisements

4 thoughts on “[cerpen] Kartu Merah Jambu Penuh Cinta by bintang

  1. sebagin cerita ini benar kisah nyata, tapi sayah kemas beberapa bagian dengan fiksi agar lebih rerasa eveknya. tapi seseorang bernama Reva yang shalehah, dan kini telah tiada itu memang benar benar ada. saya mengetahui sosok beliau ketika diceritakan oleh adik saya.

  2. Bagus banget ceritanya, Non. Indah banget kata-kata yang ditulis jadi cerita ini, serasa untaian kalung mutiara. :). Tapi sayang masih ada yang salah ketik, he, he. Yang benar itu eFek, bukan eVek. :P.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s