[cerita] tak pantas kamu mengeluh, arin

di tengah suasana hati yang kacau balau. rasanya perasaan ini gak menentu sekali. sebenernya sudah beberapa bulan terakhir saya merasa ada sesuatu ” hal” yang kosong di dalam hati. sampai saat in gak ada satupun cara, orang atau apapun itu yang berhasil ” mengisinya”(mengisi kekosongannya)

tekanan kerja rasanya makin menumpuk, belum lagi masa masa sibuk UTS dan tugas yang cukup menyesakan. rasanya bertambah satu beban pikiran saja sudah makin rumit dan banyak pikiran. sambil sempoyongan dan penuh dengan keluhan akan semua hal yang terjadi, tiba tiba saya melangkahkan kaki menju masjid kayu serbang kampus, kangen. di sana ada seorang penjual makanan ringan yang saya kenal. seorang wanita paruh baya yang selalu berkomat kamit dalam diam duduknya. bukan membaca jampi jampi atau mantra-mantra sakti , tapi berdoa, berdzikir,,, sesekali saya melihat mata tuanya turun naik menyusuri lembar demi lembar surat yasin. ”

setiap kali bertemu, saya selalu menyapanya hangat ” ibu… :)” kami pun bertukar senyum dan sesekali berpelukan. seolah semua peluh yang ada di wajahnya tak terasa sama sekali…

ibu selalu menyepaku sambil berkata ” apa kabar neng? jarang kelihatan…” diiringi senyuman tulus dan bersahaja. yup ! benar… ” jarang terlihat”. ibu, bukanlah orang pertama yang mengatakan hal itu padaku, seolah meloncat ke dunia yang baru dan berpaling dari kehidupanku yang “dulu”, meninggalkan “mereka” yang merasa tertinggal dan merasa kehilangan. kali ini, seolah pertanyaan ibu itu mewakili pertanyaan masjid kayu sebrang kampus, jika tumpukan bata dan beton itu bis bicara tentunya. entah kapan terlakhirkali aku berkunjung ke masjid ini, di tengah semua alasan duniawi yang mengurung aktivitasku didalam kampus dan jurusan saja. benar benar “hilang”…

masih menatap wajah ibu yang beranjak tua, keriput dan kelelahan, tetap saja masih ada senyum yang mengembang. himpitan ekonomi pastilah membuat dia dan keluarganya cukup kesulitan hingga di usia sesenja itupun masih harus membantu bapak yang sehari hari berjualan donat keliling.

jika rona senja mulai menghias angkasa, ibu masih saja terus tersenyum seolah berkata ” syukur alhamdulllilah hari ini masih bisa makan ” (red) dengan genggaman beberapa lembar rupiah di tangannya

seketika saya berkata pada diri sendiri ” tak pantas kamu mengeluh, arin”…

Advertisements

4 thoughts on “[cerita] tak pantas kamu mengeluh, arin

  1. Semangka!
    Makanya jangan dianggap kek anak sendiri, BITS teh.
    Ampe jungkir balik gak karuan. :).
    Kadang-kadang mendahulukan diri sendiri dari orang lain itu penting.

  2. 🙂 moga ini bisa jadi jalan ibadah.
    salah satu jalan jalan dimana disanalah aku bisa menemukan DIA.
    insya4w1

  3. mengeluh itu manusiawi, manusia pasti mengeluh.. masalahnya adalah apa yang kau lakukan setelah kau berkeluh kesah, apa kau terus maju atau berhenti.

  4. bener juga. tapi mungkin satu hal yang perlu digaris bawahi ketika semua keluhan tersebut sebetulnya masih bisa diatasi. hehe 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s