[artikel]Mengantarkan Pemuda Pada Regenerasi Kepemimpinan

Sosok seorang pemimpin adalah sosok yang dibutuhkan bagi tiap komunitas. Dalam teori kepemimpinan yang diungkapkan oleh Mintzberg, pemimpin memiliki peran Figurehead yang merupakan aspek simbolis dan seremonial dalam sebuah organisasi. Pemimpin inilah yang kelak akan banyak mewarnai golongan tersebut. Hal ini dikarenakan keputusan-keputusan sang pemimpinlah yang akan banyak nenentukan arah dan kebijakan dari komunitas yang dipimpinnya. Keadaan ini dapat pula diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sosok pemimpin atau presiden yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi disistem pemerintahan menjadi cerminan karakter dari negara tersebut. Bisa dikatakan bahwa penentuan pemimpin bagi sebuah negara yang mengusung azas demokrasi adalah sebuah pesta rakyat yang besar.

Di Indonesia yang juga mengusung azas demokrasi, pesta rakyat ini telah mulai dilaksanakan sejak yahun 1955 melalui prosesi kampanye pemilu diusia 10 tahun Indonesia merdeka. Pemilu sendiri memiliki arti dimana konstituen memilih orang-orang tertentu untuk mengisi jabatan-jabatan politik. Kepada para konstituen inilah pelaku politik dengan mengendarai motor partai masing-masing melakukan kampanye menjalang hari pemungutan suara. Pemenang pemilu kemudian ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta dan disosialisasikan kepada para pemilih.

Meski demikian, tidak semua konstituen memahami bagaimana pesta rakyat yang dikendarai motor-motor politik ini telah berjalan. Salah satunya adalah kekakuan pola kepemimpinan di negara ini yang masih didominasi oleh “orang-orang lama”. Kekuasaan cenderung dipegang oleh mereka yang kebanyakan mengusung pemahaman dan ideologi yang monoton.

Hal tersebut berpengaruh pada cara pandang dan karakterisasi dari kebijakan-kebijakan yang diambil dalam menentukan arahan bagi negeri ini. Tengok saja sistem pendidikan yang hingga saat ini masih belum mampu menemukan pola yang jelas dan tepat untuk diaplikasikan sesuai dengan kebutuhan yang memang diperlukan untuk bertahan dalam persaingan global. Padahal pendidikan adalah salah satu hal yang erat kaitannya dengan pembentukan karakter dan pengembangan generasi yang kelak akan meneruskan bangsa.

Ketidaktepatan pengambilan keputusan dan arahanpun kerap kali disebabkan oleh ketidakseseuaian cara pandang dan pola pikir dengan golongan muda yang dipinpinnya. Hal tersebut tentusaja kian memicu pelanggaran-pelanggaran kebijakan yang ditetapkan. Dibutuhkan penyegaran kepemimpinan dari orang-orang yang memang memiliki wawasan luas dalam memandang permasalahan negera ini secara cerdas sesuai dengan perkembangan zaman.

Disinilah kita bisa mulai menyodorkan ide regenerasi kepemimpinan dengan memunculkan kaum muda sebagai katalisator terbentuknya pemerintahan yang memiliki cara pandang baru dan terlepas dari kungkungan pemerintahan orde lama serta gagalnya seruan reformasi melalui momentum pemilu yang akan segera terlaksana.

Sejarah dibanyak negara memang menunjukan bahwa kaum muda merupakan katalisator menuju sebuah perubahan karena keberaniannya mendobrak sesuatu yang dianggap mustahil atau dianggap sukar bagi golongan tua. Terbukti dalam sejarah Indonesia melalui sumpah pemuda, prosesi kemerdekaan Indonesia dan pergolakan reformasi, kebangkitan rasa nasionalisme didaur ulang kembali oleh para mahasiswa dan pemuda.

Namun ditengah kerusakan moral bangsa ini, bakal calon dari golongan muda inipun perlu difilter dengan sangat hati-hati. Hal tersebut dikarenakan idealisme yang tertanam dimasyarakat tidak berorientasi lagi pada sebuah integritas. Disisi lain kecenderungan akan menipisnya rasa cinta tanah air terus meningkat, menurunnya jiwa patriotisme, nasionalisme, bela negara serta rasa persatuan dan keutuhan bangsa kian terasa luntur.

Meski demikian, hal tersebut tidak dapat memvonis secara keseluruhan dan memukul rata bahwa generasi muda di negeri ini sudah tidak bisa lagi diharapkan. Sungguh aneh jika peluang memimpin bangsa ini ditutup bagai golongan muda hanya karena alasan yang kerap kali dijadikan kambing hitam bahwa golongan muda adalah golongan yang tidak berpengalaman. Terlebih dalam kondisi dimana negara ini mengalami carut marut oleh ulah golongan yang tidak terregenerasi ditengah empat ancaman yang kian membuat bangsa ini menjadi pincang. Ancaman tersebut meliputi berlangsungnya arogansi kekuasaan politik dan terbentuknya jurang besar antara pemerintah dan rakyat yang dipimpinnya, perilaku korupsi yang sudah merasuki seluruh sendi kehidupan dipemerintahan dan masyarakat hingga mengantarkan Indonesia menjadi negara kedua terkorup di Asia. Belum lagi penegakan supremasi hukum yang masih sebatas teks book. Hal ini memposisikan keberadaan hukum di Indonesia hanya sebatas retorika.

Penerapan nilai-nilai budaya pun kian terkikis karena dampak globalisasi yang sangat mempengaruhi aspek sosial hingga menyebabkan bangsa Indonesia sulit menemukan figur yang memiliki hati, pikiran dan perbuatan yang terkendali untuk membangun bangsa.

Kini saatnya menunjukan peran golongan muda dalam memberikan harapan perbaikan dan jawaban atas permasalan yang terjadi. Oleh karena itu sosok pemimpin yang berintelektualitas dan berjiwa muda menjadi sangat penting dalam mewujudkan ide tersebut. Wawasannya yang luas dan dapat dipertanggungjawabkan diharapkan menjadi sebuah solusi bagi negara ini. Salah satu bukti bahwa pemudapun mampu memimpin bangsa adalah perannya yang memang tidak pernah absen dalam setiap revolusi nasionalisme. Bila mereka dapat belajar serius dan memperoleh keahlian yang profesional, mereka-lah yang kelak akan mengisi kursi-kursi kekuasaan yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya.

Untuk mengantarkan cendikia muda ini dalam tampuk kepemimpinan tentu diperlukan target dan staregi yang tepat agar regenerasi kepemimpinan dapat dilakukan dengan evektif. Salah satu upaya yang bisa dilakkan adalah proses pencerdasan pemilih melalui pecawanaan yang sehat oleh mereka yang memang peduli dengan perubahan. Upaya ini haruslah dilakukan dengan menginggalkan cara-cara lama yang menyudutkan, intimidasi dan penggunaan politik uang dalam menarik simpati rakyat. Pewacanaan ini lebih difokuskan pada pemunculan sosok yang menawarkan ide-ide cerdas dalam menyelesaikan permasalahan bangsa ini.

Langkah selanjutnya dalah menghadirkan forum-forum kritis yang dikemas secara menarik untuk membangun opini bagi para konstituen dikalangan mahasiswa dan pemuda dalam mendukung ide regenerasi pemerintahan yang diusung. Jika opini tersebut telah terbentuk maka pewacanaan regenerasi kememimpinan melalui pemanfaatan media cetak dan elektronik memegang peran penting sebagai langkah selanjutnya untuk membumingkan ide ini kepada masyarakat luas. Masyarakat akan cenderung memilih pemimpin berdasarkan banyaknya informasi yang mereka terima. Baik itu surat kabar, majalah, radio, internet, maupun melalui mulut ke mulut. Kebanyakan informasi tersebut bukan bersifat promosi namun cenderung informasi-informasi yang sifatnya patut dibelas kasihani. Rasa sedih, kasihan, dan empati yang mempermainkan emosi ternyata juga mumpuni untuk mendapatkan simpati masyarakat kebanyakan. Hal ini jelas harus disikapi secara bijaksana, bahwa menarik simpati masyarakat dengan pemunculan sosok pemimpin sudah seharusnya mengedepankan solusi bukan mempernainkan emosi.

Kini saatnya melakukan sebuah perubahan dimana idealisme dapat kembali dipupuk dengan menampilkan figur-figur teladan yang memiliki keberanian dalam memberikan inovasi baru dan mempersiapkan generasi muda yang amanah sebagai penyegaran tampuk kepemimpinan melalui momentum pemilu-pemilu yang akan datang.

Selain dengan dilakukannya pewacanaan, ide regenerasi inipun perlu didukung oleh “orang-orang” lama yang memang sudah seharusnya mulai memberikan transfer ilmu bagi penerus mereka dimasa yang akan datang tanpa menunggu-nunggu kekenyangan dalam kursi kekuasaaan. Sekarang adalah saat yang paling tepat untuk mengenali dan mendorong sosok-sosok baru yang memiliki potensi dalam memajukan negeri ini, untuk Indonesia yang memang harus segera berbenah diri.

[By Andriana Polisenawati – 10506031]

ditulis disela-sela menunggu rapat BITS. hehe 😛


Tokoh pengembang manajemen modern

warga negara yang memiliki hak pilih

Orang yang telah lama memegang kekuasaan di negeri ini selama beberapa pergantian pemerintahan.

Sesuatu atau senyawa yang mempercepat terjadinya sebuah reaksi

Advertisements

5 thoughts on “[artikel]Mengantarkan Pemuda Pada Regenerasi Kepemimpinan

  1. benarkah .. ?:D
    syukurlah kalau begitu…
    ada komentar lain gak?
    misalnyah tentang gaya bahasa? sistematika penyampaian? atau mungkin tentang pembahasan dari tema yang diangkat?
    misal lebih mendalam apa gimana getoh ? he he
    😀

  2. mmmmmh…
    gaya bahasannya kayak di koran si,, sama sama agak sedikit perlu diberi daya tarik lebih biar bisa memaksa pembaca untuk tetap fokus pada idenya.

    dari penyampaian ide gw masih belum dapet ide dasarnya,, mungkin karena terlalu banyak groove (manjang manjangin tulisan) yang mengantar setiap gagasan sehingga akhirnya gagasan awalnya jadi kabur.

    dan kayaknya kalo make contoh tokoh masyarakat siapa gitu untuk mendukung gagasan awal lebih bagus deh.

    Best regards…
    kasyfi

  3. haha sayang gak ada Editor in Chiefnya XD.
    Tapi syukurlah dah sedikit salah ketiknya….
    Btw, jangan lupa gunakan dikata untuk kata yang bukan kata kerja 😛

  4. maksudnyah “gak ada Editor in Chiefnya XD??” = =a

    eeiittz…. jangan salah . udah belajar dunk biar gak salah- salah ketik. he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s