[artikel] mengkritisi sinetron Indonesia

Mengkritisi geliat sinetron Indonesia yang kian membuat saya resah. Setidaknya ada beberapa point yang ingin saya tuliskan tentang sinetron sinetron Indonesia yang kini kian tidak sehat dan menjadi santapan manis bagi keluarga, khususnya kaum ibu untuk melepas lelah di rumah. Semoga hal ini bisa membantu mencerdaskan kita dalam memilih tayangan yang baik untuk keluarga dan juga anak-anak.

  1. 1. Ciri sinetron Indonesia yang umum adalah hadirnya tokoh antagonis kelewat jahat hingga tindakan tindakan yang dilakukannya terkadang tidak masuk akal serta menjadi contoh yang sangat buruk. karakter jahat yang ditampilkan ini menumbuhkan kebencian bagi siapapun yang mengikuti alur ceritanya, sehingga tanpa sadar selama menonton, pemirsa bersungut-sungut atauk mengutuk ngutuk adegan yang terjadi. Hal ini jelas tidak mendidik dan melatih perangai yang emosional bagi siapapun yang menontonya.
  2. 2. Kehadiran tokoh antagonis ini tentu harus diimbagi dengan hadirnya tokoh utama protagonis yang selalu menderita, tertindas dan tidak berdaya melakukan apa apa. Tidak jarang tokoh utama yang ditampilkan terjerumes kepada hal hal negatif yang tidak mendidik, yaitu hamil di luar nikah, mencintai suami orang, bertukar orang tua, dll. Kehadiran tokoh ini mengundang simpati yang tidak perlu dikalangan pemirsa. Hal tersebut disebabkan Karena penderitaan demi pendertaan yang seolah olah dibalut dengan pasrah dilakukan secara berlebihan dan tidak masuk akal. Selain membuat presepsi bahwa tokoh tokoh inilah yang kelak akan ditemui oleh “pangeran tampan” dan menjadi kaya raya, atau ditemukan oleh keluarga kandungnya dan menjadi kaya raya, tokoh ini seolah membuat presepsi penindasan menjadi lumrah dilakukan oleh karakter antagonis yang dihadirkan.
  3. 3. Alur cerita yang monoton dan berulang ulang hingga membuat bosan dan tidak berbobot. Mengulang-ngulang siasat untuk membuat tokoh uama menderita hingga akhirnya sinetronpun selesai dengan akhir tokoh antagonis yang dipenjara, meninggal atau bertaubat. Sungguh perjalanan yang panjang hingga berates ratus episode hingga akhirnya sinetron ini menemui kata TAMAT.
  4. 4. Menyalah artikan ajaran agama tertentu. Sinetron yang menjamur dikala bulan suci telah tiba dengan muengusung tema keislaman justru malah menjerumuskan. Selain berisi penderitaan penderitaan tidak masuk akal,dendam kesumat dan cara cara keji untuk menebar dendam pada orang lain yang disebabkan hal sepele seperti cinta buta, sinetron ini kerap memasukan nilai nilai seperti pacaran, liberalisme, mencintai suami orang lain, gila harta dll. Parahnya lagi, Sinetron yang memiliki alur cerita berulang-ulang dan bertele tele ini menjadi konsumsi keluarga diwaktu waktu utama menjalankan ibadah, yaitu saat berbuka, magrib, isha dan tarawih.
  5. 5. Maraknya unsur mistis yang berbau musrik. Unsur mistis ini dihadirkan dengan bentuk –bentuk kemusrikan yang menanamkan jalan pintas, negeri negeri kayangan, mahluk mahluk mistis sebagai alternative lain menjalani hidup dengan persekutuan yang melenakan. Trand mistis ini sudah menjamur dan seolah diberdayakan untuk meningkatkan rating dan melakukan pembodohan masal dimasyarakat.
  6. 6. Saya sempat tersentak ketika trand sinetron di salah satu stasiun televisi yang cukup dikenal di Indonesia ramai mengusung tema mempermainkan arti suci pernikahan. Tema yang diusung adalah berpura pura menikah karena satu dan lain hal, seorang wanita yang bertipu muslihat untuk menikahi seorang pria atau suami kaya raya demi harta, wanita yang masih memiliki status sebagai istri orang lain tinggal bersama dengan pria lain tanpa status yang jelas, wanita atau pria yang sudah memiliki suami atau istri namun menggadaikan harga dirinya demi bermuslihat “merebut kembali” cinta lamanya yang telah menikah dengan orang lain. Belum lagi tema tema perselingkuhan yang akhirnya “menghasilkan” anak haram yang kemudian menjadi tokoh utama dari salah satu sinetron yang masih laris manis tayang di stasiun televisi yang sama. Semua contoh diatas seolah menyepelekan nilai-nilai suci dari pernikahan yang dalam islam dinilai sebagai upaya menggenapkan separuh agama. Sungguh tinggi dan suci pernikah ini jika dijadikan sebagai bahan olokan dengan dibalut penghianatan-penghianatan seperti perselingkuhan, penghianatan dan gila harta.
  7. 7. Mengangkat cinta monyet atau “cinta mati”secara berlebihan yang ujung ujungnya membuat seseorang mampu menghalalkan segala cara dalam membuktikan atau mendapatkan seseorang yang dicintainya dengan tipudaya yang licik sekalipun. Hal ini menanamkan ketergantungan kita bukan kepada tuhan, namun kepada manusia secara belebihan.
  8. 8. Pakaian yang minim, glamour, gaya bahasa kasar dan terdengar kejam diiringi tatapan mata yang penuh dendam serta pola hidup hedonis seolah menjadi ciri khas yang wajib ada dari beberapa sinetron yang ditampilkan di Indonesia. Sementara Jilbab yang merupakan “pakaian kehormatan” bagi wanita muslimah mendapat cibiran dan predikat kuno serta membosankan. Jilbab yang dicitrakan dalam sinetron inipun menurut saya belum maksimal menggambarkan jilbab yang memang disyariatkan, selain kerudung pendek yang dilitkan ke leher, baju tanggung dengan panjang tigaperempat dan kerudung yang dipadu bersama pakaian yang ketat seolah membuat presepsi bahwa jilbab yang lumrah digunakan adalah jilbab dengan model model demikian. Bukan jilbab yang menutupi bagian badan secara sempurna seperti yang disyariatkan.
  9. 9. Hedonisme berbudaya melawan orang tua, melawan guru, bolos sekolah, seragam mini, cinta monyet, sex bebas menjadi cirri lain dari sinetron yang mengusung tema cerita remaja. melawan dan mnegerjai guru atau orang tua seolah menjadi hal yang lumrah dalam keseharian remaja melakukan aktifitasnya. Figure gurupun di buat seolah tidak berdaya dikerjai oleh murid muridnya hingga hal ini menimbulkan citra bahwa berlaku tidak sopan pada orang orang yang harusnya kita hormati adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
  10. Dalam kasus –kasus melawan kepada orang tua, kebanyakan hal tersebut disebabkan oleh cinta buta yang mendorong tokoh tokoh dalam sinetron mampu melakukan apa saja seperti kawin lari,atau hamil di luar nikah.

Hal negatif lain sebagai danpak dari sinetron ini ternyata tidak main main.

Selain jam tayangnya diwaktu waktu utama beribadah ( magrib dan isya ) dalam beberapa kasus, kesibukan para ibu untuk menonton sinetron ini bisa membuat jurang antara sang ibu, anak dan keluarganya. Parahnya lagi, paradigma yang tertanam bisa saja mempengaruhi pola pendidikan dikeluarga tersebut. Belum lagi nilai nilai lain seperti hedonis dan liberalis yang sangat kental tertanam dari citra sinetron yang dihadirkan.

Akankah kita mulai membisaakan diri untuk menerima begitu saja setiap informasi yang masuk lewatmedia elektronik ini? Saya rasa, masih banyak alternmatif hiburan lain seperti membaca untuk mengatasi bahaya degradasi moral yang ditimbulkan.Sudah saatnya kita sendirilah yang mulai peduli dan pintar- pintar memilih tayangan bermutu bai perkembangan anak dan keluarga.

Andaikan berharap peran serta komisi penyiaran Indonesia membutuhkan “waktu yang tidak sebentar “ dalam mengatasi hal ini, maka kitalah selaku pihak yang sebenarnya banyak menerima dampak negatif dari sinetron yang harus mulai cerdas dalam menyikapi tayangan yang ada.

Semoga “kritikan” diatas mampu memberikan sedikit pemahaman bahwa media akan membarikan pengaruh yang luar biasa dalam membangun karakter bangsa. Jika input yang dihadirkan lebih banyak memberi nilai negatif, maka perubahan hanya menjadi kata dalam kamus yang sulit diwujudkan bagi negeri ini.


depan layar computer

26 Desember 2008

By. Bintang

Ditulis untuk mengkritisi bahaya sinetron yang main menjadi jadi

Advertisements

10 thoughts on “[artikel] mengkritisi sinetron Indonesia

  1. Kalo yang buatnya Rahmat Punjabi pastinya jadi ya kek gitu. :p Jadi film sampah. Apalagi efek musik ama pindah adegannya itu loh. Bisa sepuluh kali dalam satu menit dengan efek yang sama. :))
    .
    Yang layak tonton sekarang cuman metro tv ama pixar. :p

  2. beuh.. sebut merek lah abang ini :))
    he he, iyah kaka…
    lagi hobi banget nonton metro.soalnya tayangannyah berbobot dibandingkan salah satau stasiun yang ‘ sejenis’ ada beberapa tayangan yang terkesan “ngomporin” dan gak pro Islam kalu tayang tengah malem,walo temanya filem dokumenter he he ^_^’

  3. saya 100 % setuju dengan ide menggulingkan hegemoni klan punjabi di dunia pesinetronan,,

    namun,tapi kita juga harus menghasilkan solusi, bintang,,

    sinetron itu satu bagian dari mekanisme iklan komersial, dibalik sinetron dengan rating tinggi itu ada ratusan juta rupiah mengalir ke kantong stasiun tv, yang dialirkan lagi untuk menutupi pengeluaran per bulannya dan dialirkan lagi ke kantong kantong karyawan yang kerja disitu,,

    kalau tayangan itu distop,, bisa gak makan tuh karyawan,,

    masalahnya adalah rating,,

    saat ini sinetron dengan rating tinggi adalah yang seperti itu,, yang bisa melibatkan penonton secara emosi dengan skenario skenario yang hiperbolis,

    nah,, kalo yang seperti ini mau dihilangkan,, harus ada penggantinya,,

    dengan rating tinggi juga,, tapi memberi manfaat,,

    bagaimana caranya? ya harus difikirkan lebih jauh,,, diskusinya panjang

  4. iyah ney, diskusinyah panjang. udah jadi polemik keknyah 😛
    tapi miris juga yah kas, mendapatkan rupiah dari melakukan pembodohan…
    tanpa tau juga solusi yang benar 😛
    kalau kayak getoh, apa dengan berdirinyah “dinasti punjabi” kita sedang “dijajah” ya ? = =a

  5. saya bisa mengerti kegelisahan ana,,,

    terutama bagian yang bikin saya ketawa:

    hadirnya tokoh antagonis kelewat jahat hingga tindakan tindakan yang dilakukannya terkadang tidak masuk akal…

    hahaha… benar-benar acara yang menjijikkan dan perlu dikasihani… ==’

  6. maak…..
    ngeri lah ini sinetron kalu gak berubah juga penggarapannya.
    soalnyah udah banyak banget yang mengkritik “tayangan gak guna”. beuhh.. = =a

  7. he he.. makasih…
    desainnya yumcatz ma Muhammad A.K jauh lebih bagus 😀
    yah sok ajah ….
    selama bisa bermanfaat dan dimanfaatkan dengan baik..
    dengan senang hati di donlot 😀

  8. he he. hwewww…. kalau menurut sayah. memang kurang banyak pelajaran dan hikmah yang bsia diambil dari sinetron kita. bukan hanya dari segi pola pikir, tapi juga mungkin dari banyaknya”tuntutan” lain. kalau menjijikan. hm…mungkin lebih tepat dikatakan kurang manfaat kali yah 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s