[artikel]Sebuah budaya mengkritik dan berprasangka

 

Kali ini aku ingin menyoroti sesuatu .Sebuah budaya mengkritik dan berprasangka. Terutama saat bergaul, saat mengikuti sebuah kegiatan, dan juga tentang berada dalam sebuah organisasi. Sebuah cara yang sering terlupa, yaitu Tabayun dengan cara yang baik.

Adakalanya ketika kita berorganisasi dan mengorganisir sesuatu, maka hal tersebut pasti memiliki banyak kekurangan dan tidak akan memuaskan banyak pihak, misalnya banyak sekali ketidakjelasan ketika menjalankan sebuah acara. Atau mungkin ketidakjelasan tentang peraturan peraturan yang berlaku dalam pembagian jobdesk kerja dari sebuah organisasi atau kegiatan yang kita ikuti.

Hal pertama yang “biasanya sering” terlontar adalah, “ kepengurusannya gak becus”, “ gimana sih acaranyah? Kok gak jelas begini?”, “ kok panitia seenaknya aja menentukan aturan aturan?”. Lantas ucapan ucapan tersebut menjadi buah bibir dan tersebar ke khalayak banyak.

Belakangan ini saya menyadari bahwa hal tersebut perlahan menjadi sebuah kebiasaan, sebuah kebiasaan yang hampir selalu dilakukan tanpa bertabayun terlebih dahulu. Bertabayun untuk menanyakan dengan arif lagi bijak tentang kesalah fahaman dalam mencari tau sebab yang sebenarnya menjadi alasan seseorang melakukan sesuatu.

Yap, dari kritikan kritikan diatas, terkadang ada bagian yang terlupa. Bahwa seseorang secara naluri memiliki keinginan untuk memberi pada orang lain sesuai dengan sifat sifat asmaul husna yang memang dipercikan 4w1 kepada hamba-hambaNYA. kadang sikap percaya pada orang lain dikesampingkan karena perasaan ketidakpuasan yang dialami. Ambillah contoh sederhana dari kritikan berikut “ gimana sih acaranyah? Kok gak jelas begini?”, “ kok panitia seenaknya aja menentukan aturan aturan?”. Seandainya sikap percaya bahwa setiap komponen panitia telah berusaha semampu mereka untuk bisa memberikan yang terbaik demi kesuksesan kegiatan atau acara yang dibuatnya. Maka gibah gibah yang menjurus fitnah tersebut bisa diminimalisir. Tidak semua usaha keras dari orang lain kita mengetahui dengan pasti, bukan?. Yang saya hawatirkan adalah ucapan ucapan tersebut malah memeperkeruh keadaan karena tidak dikemas dengan baik. Sementara “hadiah” yang diterima bagi orang yang mengkritik tersebut adalah kekecewaan ditambah dengan bonus “sebuah dosa” karena telah berprasangka, atau mungkin bergibah dan yang lebih parahnya lagi memfitnah jika vonis “ kok panitia seenaknya aja menentukan aturan aturan?” ternyata memang diniatkan dari awal untuk “ menjaga “ dan juga memudahkan peserta mengikuti prosedur yang berlaku. Kesewenangan terjadi ketika peraturan yang berlaku dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak yang terlibat dan sama sekali tidak mempertimbangkan aspirasi dari peserta yang menjadi objek peraturan itu sendiri.

yap, mulai saat ini sebelum kita “memvonis” sesuatu kita bisa membiyasakan bertabayun dengan cara yang lebih baik. Bertanya pada pihak yang terkait tentang kebenaran prasangka yang timbul dalam hati kita sebelum terlanjur menggunjingkannya bersama dengan orang lain.

Ingatkan saya juga yah, kalu- kalau lupa tentang apa yang saya tulis disini ya. . . He he

Karena saya percaya, kita masih bisa saling menjaga dalam kebaikan. J

Siapapun, kapanpun, dimanapun…

Advertisements

2 thoughts on “[artikel]Sebuah budaya mengkritik dan berprasangka

  1. Sepertinya bukan budaya prasangka, tapi tabiat yang selalu dibiarkan karena empati yang kurang dalam. Kalau dalam bahasa sepak bola disebut offside.. prasangkanya ngeduluin garis pertahanan hehe..

  2. hehe, yah mungkin juga kek gituh…
    walaupun gag ngerti bola, tapi mungkin agak nyambung juga ^_^’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s