[kisah] menunggu

 

status YM salah seorang temanku yang membuatku memiliki sebuah pertanyaan besar, "apa yang mampu membuat seseorang untuk terus memilih menunggu dari pada melupakan"

status YM salah seorang temanku yang membuatku memiliki sebuah pertanyaan besar, "apa yang mampu membuat seseorang untuk terus memilih menunggu dari pada melupakan"

Menunggu. Adalah sesuatu yang kerap kali dianggap sebagai sesuautu yang menyebalkan oleh sebagian besar orang. Tapi, beberapa orang mengatrikan kata menunggu sebagai sebuah ungkapan kesetiaan. Sebagai uangkapan dari sebuah komitmen yang dipegang teguh oleh seseorang. Yap, seseorang memang memiliki cara sendiri untuk mendefinisikan sesuatu hingga membuat hal itu menjadi nyaman untuk dirinya. Tapi, yang membuatku bertanya Tanya adalah apa yang membuat salah seorang teman ku ini ( yang status YM nyah sayah print screen, he he )merasa nyaman untuk menuggu. Menunggu seseorang yang dicintainya. seseorang yang bahkan tidak pernah dia sapa. Tidak pernah dia izinkan untuk bisa mengenalnya atau bahkan mengetahui bahwa dirinya ada. Hanya dipendamnya saja. Meski tidak berani bertanya banyak, aku mencoba memikirkan mengapa dia selalu saja berkata, “ nanti, nunggu saat yang tepat”, selalu seperti itu. Aku tau, ada banyak alasan mengapa dia melakukan hal tersebut, namun aku kadang tidak mengerti hal apa yang mampu membuatnya terus bertahan untuk diam. Menunggu. Tanpa memilih untuk melupakan. Hingga suatu hari dia melihat akhwat yang dicintainya sejak lama itu berjalan bergandengan dengan seseorang ikhwan yang lain. Bergandengan? Yap, tangan kirinya menyilang manis menggandeng seseorang ikhwan di pelataran masjid kayu sebrang kampus sehabis jumatan.  Mungkin dia memilih melupakan, atau mungkin dia juga memilih untuk menunggu seperti apa yang dia tuliskan di ststus YMnya. Menunggu?Ah, aku sungguh tidak mengerti apa alas an yang bisa terus membuatnya menunggu.

 

Tapi. Mungkin aku bisa bertanya padamu. Yap, kamu? Kamu yang membaca tulisan ini. Apa alasanmu untuk tetap bisa menunggu sesuatu. Atau mungkin menunggu seseorang yang kamu cintai. Menunggu sesuatu yang kamu sukai. Menunggu sesuatu yang kamu impikan. Hingga akhirnya kamu bisa memutuskan untuk memilih menunggu, daripada melupakan. . .

-bintang-

Advertisements

31 thoughts on “[kisah] menunggu

  1. kenapa pria menunggu? sama ketika seorang pria mengikuti ujian, dia sudah mengisi semua jawaban yang dia isi, dan beberapa orang sudah mengatakan bawa rata rata kelas dia sangat tinggi dan bahkan sebelum ujian usai dosen yang menawasi sudah sedikit memberikan senyum penuh arti kepadanya.
    Dia akan menunggu hasil uiannya, dan dia akan menyiapkan dirinya, entah hasilnya itu sesuatu yang memang diaharapkan, atau sesuatu itu tiak pernah dia bayangkan sedikitpun.. Dia akan menunggu ar, melalui proses menunggu yang menyakitkan itu..

    di waktu lain si pria itu mengikuti ujian lain, hampir semua jawaban tidak bisa dia jawab, padahal dia melihat teman temannya saling bertukar senyum kemenangan, karena waktunya masih lama, akhhirnya si pria mengumpulkan juga kertas ujiannya yang baru diisi beberapa, dan ketika dia menoleh ke belakang, dosen menatapnya dengan tajam..
    maka dia tidak akan menunggu, dia akan melepaskan.. move on..

    yah itu sayah si, ndak tahu kalo orang lain yah…
    kenapa pria menunggu? karena pria selalu mengejar, dan wanita selalu menentukan…

  2. hidup itu pilihan…
    menunggu itu juga pilihan…

    yang saia fahami menunggu itu menyenangkan,
    dan terkadang saia rindu untuk melakukannya….

    yang terpenting dari semua hal yang kita lakukan adalah
    kita mampu untuk mengisi kekosongan itu dengan hal yang bermanfaat…

    (^^)
    ‘saia menghabiskan waktu untuk menunggu kurang lebih 2jam sehari untuk menunggu bis, dan biasanya saia mengisinya dengan membaca buku, baik novel atau buku2 lainnya’

    waiting is a comfort thing if u do somethin’

  3. @ kasfi.
    rahasia ” beberapa ” wanita neh yah. dalam beberapa hal kami sedikit sulit menentukan dan menetapkan hati pada sesuatu hal, terutama masalah ” cinta “. karena cinta itu tidak punya tolak ukur yang nyata, tolak ukur yang bisa membuat seseorang menjadi lebih ” menang” ketimbang yang lainnya. kadang mengenal dan mengetahui bahwa ada seseorang yang mampu menunggu kami adalah sesuatu yang sangat menyanjung, namun di satu sisi kami juga tidak bisa membalas apa apa. kalau saya ada diposisi seperti itu, mungkin saya akan jauh merasa lebih tenang dan menghormati ikhwan tersebut jika sang ikhwan memilih untuk melupakan, daripada terus menunggu di bawah bayang bayang seseorang ^_^’ he he
    makanyah, harus tegas ituh penting yah.. ^_^’

  4. @ruslan
    nah ituh dia ruslan. menyulap menunggu menjadi sesustu yang menyenagkan emang butuh kemampuan ” khusus”. gag semua orang mau dan mampu untuk melakukannya. tapi yang lagi sayah bicarakan ini adalah ” menunggu ” dengan hati. menunggu seseorang yang kita cintai dalam kurun waktu bertahun tahu. bukan hanya sekedar menunggu bis atau menunggu kekosongan waktu yang senggang.
    yap? kenapa seseorang bisa mengartikan menunggu ini sebagai sebuah kesetiaan, bukan sebuah kesia-siaan 🙂
    begitchu.. he he ^_^’

  5. hooh,,

    betul ar, emang harus tegas, jangan menebar benih di mana mana, ntar bingung panennya yang mana. 😉

    kalo suka bilang suka, kalo cuman teman aja bilang teman aja. jangan dibuat abu abu, emang harus itam putih kalo hal kek gini, kalo gak mau ngasi harapan, jangan ngasi harapan, kalo emang seneng ya kasih tanda yang jelas. (itu bagaimana kami bersikap)

    Kadang kadang ada lho ar cewek yang emang suka tebar tebar pesona dimana mana, dan disalahartikan sama cowok, akhirnya jadinya ngejar lah si cowok dan kadang kadang yang menyalahartikan bukan cuma satu, hehe….

    bukan salah cewek juga, karena mungkin padahal dia emang pengen menebar kebahagiaan iya gak? bukan salah cowoknya juga karena mungkin aja dia emang lagi nyari..

    koreksi buat diri masing masing la yah… 😉

    kembali pada pepatah kuno “semuanya kembali ke diri masing masing”

    =)

    btw keknya kungekngok dari mulai puisi tentang langit sama yang ini emang lagi blue yah?

    ayo tulis lebih banyak!!, biar rasa kan tersirna jadi bait kata beremosi…

  6. inimah keknyah kasfi curhat-___________-‘
    lagi blue? maksudnyah apa? lagi melankolis?
    kok istilahnya” blue” cih??
    gag banget -_________-‘

  7. whew..

    Kalo kata siapa ya lupa, you cant wait, life cant wait. Carpe diem, seize the day. Dont wait.

    Kalo aku baca cerita kamu diatas, aku ngerasa sedih sama orang itu sekaligus kesel kalo dia temenku, udah ku ospek abis abisan tuh anak. [ Eh tapi klo trus sampe koit bahaya juga ga jadi deh 😀 ]

    It’s written, life is already written, sudah tertulis, jadi ngapain nunggu..

    Kecuali kalo nunggunya atas alasan yg benar.I mostly never wait, if i say i’d walk then i walk away, really away, kadang – kadang nyesel kenapa aku kaya gitu? kadang nyesel kalo ternyata yg kutinggalkan tiba tiba berkembang menjadi sesuatu yg lebih dari yg kuperkirakan. Tapi saya mengambil tanggung jawab atas pilihan saya, nyesel sih, sebentar tapi, reaksi yang wajar..

    anyway.. saya selalu bilang:

    something you dont have, you dont need it now..

    atau

    selalu ada yang lebih baik di depan sana..

    jadi ngapain nunggu.. life never wait,

  8. yap. selalu ada yang lebih baik di depan sana. kadang kita harus mencarinya, tapi kadang kita sendirilah yang harus menciptakan hal yang baik itu 😀

  9. itu cuma sekedar analogi…

    jadi apapun yang kita kerjakan
    termasuk ‘menunggu’ baik hal yang biasa atopun mengenai ‘cinta’
    bisa mengasyikkan jika…

    bisa menikmati menunggu itu sendiri dengan mengisinya
    ya…
    klo apa yang mau dikerjakan itu depend on the person…

    betewe….
    aku juga lagi nunggu seseorang yang nantinya akan
    saia jadikan teman untuk selamanya…

    (^^)

  10. “sayah mah menunggu undangannya ajah hihi..”
    heuheu.. jawabannya dah jadi templet keknya…

    Blue itu warna universal untuk melancholis kali…
    kamu aja yang gag tahu… -___-‘

  11. he he, jawaban templet yah 😀 lucu juga istilahnya.
    oh yah? warna yang melankolis? kirain biru ituh warna kesetiaan 😀

  12. saya milih nunggu sampe dateng undangan,
    trus baru deh lupain..

    “Apa alasanmu untuk tetap bisa menunggu sesuatu … Hingga akhirnya kamu bisa memutuskan untuk memilih menunggu, daripada melupakan”

    jawaban simpelnya,
    because it’s/she’s/he’s too good to be forgotten..

    sungguh berharga dan membakar motivasi jika memiliki sesuatu yang baik yang dipancangkan sebagai tujuan.
    tapi jika impian itu berhubungan dengan dunia maka jangan lupakan do’a yang sering terpanjat:
    “…janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita terbesar kami…”

    menunggu sang impian adalah suatu hal yang istimewa,
    bahkan terlalu istimewa untuk sekadar didefinisikan sebagai ‘kesetiaan’.
    sejatinya menunggu adalah bukan untuk si objek melainkan untuk si subjek..

    menunggu berarti mengisinya dengan perjuangan membentuk diri hingga mencapai kapasitas yang dirasa cukup untuk kemudian menyampaikan ketegasan,
    kan konyol jika misalkan terucap:
    “ukhti, saya kalkulus dapet A, fidas dapet A, kidas dapet C, bersediakah ukhti ta’aruf dengan saya?”..

    dan jika pada saatnya nanti ternyata si tersangka tidak bersedia, atau sudah menggandeng seseorang di pelataran masjid, atau hilang entah kemana, proses menunggu itu bukan menjelma menjadi suatu kesia-siaan..

    tidak ada kesia-siaan, karena menunggu itu tidak diam tetapi terus berusaha berkembang seiring berjalannya hidup..

    tidak ada kesia-siaan, karena menunggu bertahan dalam koridor syar’i perihal interaksi pria-wanita akan beroleh janji:
    “orang yang meninggalkan yang haram padahal ia menyukainya niscaya akan dianugrahi yang halal atau Allah menggantinya dengan yang lebih baik”..

    tidak ada penyesalan, karena pena kalam telah diangkat dan tinta takdir telah mengering..

    kembali ke pertanyaan awal,
    “Apa alasanmu untuk tetap bisa menunggu sesuatu … Hingga akhirnya kamu bisa memutuskan untuk memilih menunggu, daripada melupakan”

    jawaban gak simpelnya,

    jika yang ditunggu itu adalah suatu/seorang yang baik,
    dan senantiasa memperbaiki diri lalu mencari kebaikan untuknya,
    serta menempuh cara/jalan yang baik dalam mencapainya,
    juga dengan niat terbaik karena Allah,
    maka yang akan diperoleh dalam prosesnya adalah kebaikan,
    walau apapun hasil akhirnya..

    tapi saat menunggu kadang juga harus melupakan,
    ketika hati goyah dan pikiran tidak mau kompromi sehingga dipenuhi oleh yang ditunggu sampai membuyarkan ibadah, merusak aktivitas dan meredupkan semangat menuntut ilmu, maka lupakanlah sejenak,
    ingatlah bahwa episode hidup tidak melulu persoalan cinta kekasih,
    tema itu ada di urutan ke-lima (baca: sebuah do’a)..

    sebagai kartu as, tolong sampaikan salam saya kepada teman sangbintang itu:
    jangan pernah tujukan pautan dan harapan tertinggi kepada selain Allah,
    siapa yang menjadikan Allah di posisi nomor 1 di hatinya maka tidak akan pernah ada rasa takut dan sedih..

    menunggu bukan sebuah kesetiaan dan juga bukan sebuah kesia-siaan..

    [aku berlindung dari perkataan dan tulisan yang lebih tidak berguna ketimbang diam. dan aku berlindung dari diam yang lebih buruk ketimbang berkata dan menulis]

  13. owh…. so sweet..

    menunggu itu makan ati mul
    hehe..

    dan motivasi yang dikarenakan sebuah penantian terkadang tidak bertahan lama ketika penantian itu usai dan berlalu..

  14. @ kak immamul
    subhanallah kak.. kalau komen suka berbobot kaka ini, jadi seneng.. tandanyah artiketnyah ditanggapi dengan baik 😀 he he
    emang ci kak, kalau menunggu ituh tergantunng bagaimana kita mengisinya, tapi kadang kita butuh banget seseorang yang menemani kita saat menunggu, entah ituh temen atau mungkin sesuatu yang bisa memecah “rasa sakit” sebagai efek samping dari menunggu. he he

  15. @kasfi
    hihihihihihi.. iyah kasfi iyah… sayah negrti kok, emang ituh sakit banget.
    makanyah gag semua orang bisa merasakan menunggu sebagai sebuah aktifitas yang nyaman 🙂

  16. “menunggu itu makan ati mul”

    skalian aja siapin teh botol sosro 😀
    makanya saya bilang,
    saat menunggu jangan taruh ia di posisi tertinggi di hati..

    “dan motivasi yang dikarenakan sebuah penantian terkadang tidak bertahan lama ketika penantian itu usai dan berlalu..”

    mau tau jenis penantian yang selalu menambah motivasi,
    dan penantian itu sepanjang hidup?

    menunggu mati -___-‘

    “tapi kadang kita butuh banget seseorang yang menemani kita saat menunggu, entah ituh temen atau mungkin sesuatu yang bisa memecah “rasa sakit” sebagai efek samping dari menunggu”

    temen itu selalu ada,
    klopun satu saat temen itu lg ‘berhalangan’,
    masih ada Dia..

    sesuatu itu selalu ada,
    klopun satu saat sesuatu itu lg ‘berhalangan’,
    masih ada kitabNya..

    @sangbintang
    beuh, <___<
    harus brp kali saya bilang,
    nama saya gak pake dobel ‘m’,
    nanti jadi berubah artinya..

    [mohon maaf kali ini komen saya kekny gak berbobot 🙂 ]

  17. wah! ada gemercik.. mari kita sulut menjadi sebuah diskusi..

    @siapin teh botol sosro
    wah kamu harus mencari sesuatu yang bisa dianalogikan dengan botol sosro ketika proses menunggu yang makan ati itu terjadi.. saya sih belum menemukannya mul,,

    saya sih kalo mengalami sesuatu apapun selalu berpikir impactnya apa,, selalu berfikir sebab akibat. contoh, ketika saya menunggu, saya akan secara otomatis menjadi seperti majnun kepada layla (dari kisah cinta padang pasir).. efeknya? tangan gatel pengen nulis puisi mulu, terus banyak berkhayal, dan mengindulge setiap rasa yang datang, efeknya lagi? tidak fungsional..
    -_________-‘

    nah jadi harus dipertimbangkan pro dan contra dari menunggu itu.. saya gak bicara apakah proses penungguannya itu feasibel (bisa tercapai) atau engga, atau yang ditunggunya itu sangat menarik untuk dilewatkan (adeeuuh…hehe) atau tidak, atau kita merasa dia adalah orang yang ditakdirkan untuk kita atau enggak..

    tapi saya bicara implikasi ke depannya akan seperti apa, terhadap impian kita, terhadap prioritas kita yang lain, terhadap proker kita serta visi dan misi kita, kalo memang ditimbang timbang memang sangat buruk pengaruhnya terhadap prioritas saya yang lebih tinggi lain, yah saya akan memilih untuk menghadang rasa sakit untuk melupakan.. agar bisa lebih bebas dan lebih bahagia..

    memang menunggu itu sesuatu yang romantis, dan seperti arin bilang mungkin sebagian wanita akan tersanjung ketika ditunggu, tapi sekali lagi,, terkadang pilihan kita untuk menunggu itu terlalu didominasi pertimbangan non logis yang menafikan akal budi, ya yang namanya emosi itu, jadi pemikiran kita gak murni lagi, dan gak logis lagi cara berfikirnya.. akhirnya lahirlah kalimat kalimat yang kayak :
    – kutunggu jandamu
    – if i don’t have you, i don’t want nobody
    – atau yang ekstrim (lagu yang baru saya denger di tokema tadi pagi) lebih baik kamu mati saja daripada ada yang memilikimu selain aku.. hiiii psikopat keknya 😀

    lagian, percaya lah, yang namanya jodoh itu dah ditentukan sejak lahir, gak akan kemana kalo memang jodoh, pasti ada aja jalannya, karena disitu Tuhan berpengaruh,,

    ada quote yang menarik sekali dari teman saya soal ini

    “Gw rasa … Tuhan hanya memberi opsi, qt menentukan jalan… Apapun yg qt pilih, Dia masih akan terus “menemani”, menyaksikan, menghadirkan opsi2 lainnya, dan membiarkan qt memilih lagi… Begitu terus sampe qt tiba pada titik kematian dan jodoh. Karena di sana, Dia mutlak berkehendak. Gw rasa c begitu, hehe..”

    dunia itu gak sempit kok, lebar, untuk setiap ikhwan itu pasti ada seorang akhwat ( atau lebih,, g tahu ya mungkin lho)dan semuanya itu sudah ditentukan sejak kita lahir, kita tinggal berusaha,

    jangan menghakimi duluan kalau seseorang itu tidak mendapatkan kita, maka mungkin dia gak akan punya kesempatan lain, waduh, ini dah mendahului takdir namanya.

    jalani aja, cara apapun untuk mendapatkan pasangan kita entah denagn menunggu, atau membiarkan, pasti manjur! kalau memang dia itu memang sudah takdirnya sama kita..

    namun harus dicamkan bahwa, janganlah masalah yang tidak sebegitu urgent seperti ini menjadi halangan di semua kegiatan kita, maslah kita masih banyak, rakyat miskin yang harus dibantu, palestina yang masih dalam ancaman israel, jutaan penduduk kita yang buta huruf, korupsi yang merajalela, ataupun tekad kita untuk mewujudkan legenda diri kita (hayoh arin buku the alchemistnya belum dibaca ya?)

    yang pasti harus tahu lah prioritas yang mana, karena kalau masalah emosi seperti ini, sebelum kita bisa menguasai emosi kita, sebelum kita menyadari penuh bahwa kita sedang didominasi oleh emosi alih alih akal ketika mengambil keputusan, kita gak akan bisa lepas, akan banyak sekali argumen tidak logis dari pihak emosi yang akan mengotori keputusan kita..

    “mau tau jenis penantian yang selalu menambah motivasi,
    dan penantian itu sepanjang hidup?

    menunggu mati -___-’”

    waduh.. pasti sulit kalo setiap hari kita menunggu mati. selalu khawatir kita akan mati di tempat yang tidak tepat, selalu takut mengambil keputusan, selalu dihantui rasa takut mati setiap hari, ah.. gak yakin saya hal kek gini bisa memotivasi,

    apa bedanya menunggu matinya kita yang seperti itu, sama orang yang divonis kanker dan cuman punya waktu 7 hari lagi untuk hidup? sama sama menunggu kematian. cuma yang satu mungkin kemungkinannya lebih pasti daripada yang gak sakit (walaupun pasti gak selamanya begitu)dan saya yakin selama tujuh hari itu dia gak akan tidak berfikir satu haripun tentang kematiannya.. hidup yang sengsara mul..

    hidup yang selalu menunggu kematian itu tidak berbeda dengan mati itu sama sekali
    (ini quotenya siapa yah saya lupa)

    mati itu kan sudah pasti, jadi tidak perlu takut lagi, karena yang harus kita lakukan adlah mempersiapkan amal untuk meraih ridonya sebanyak banyaknya kan? karena motivasi yang didasarkan pada rasa takut itu tidak penah saya rsakan menjadi suatu hal yang baik untuk mendasari apapun..

    kan kata umar juga, beramalah seolah olah kita akan mati besok, dan berusahalah seolah ktia akan hidup seribu tahun lagi, motivasi akan kematian itu hanya untuk ibadah aja, kalo sampai dibawa ke area muamalah, akan berabe nanti…

    tentunya jawaban yang manis selalu ditutup dengan kalimat
    ” hal ini tidak bisa digeneralisir, dan semua kembali kepada diri masing masing”

    wah! maap ar, kepanjangan komennya..

    senyum… =)

  18. entah mungkin saya kurang bagus menyampaikan,
    tapi tanggapan saya semua (termasuk utk komen di atas ini) udah saya maksudkan dan simpulkan di kata2 saya di komen pertama yang:

    quote 1:
    “jangan pernah tujukan pautan dan harapan tertinggi kepada selain Allah,
    siapa yang menjadikan Allah di posisi nomor 1 di hatinya maka tidak akan pernah ada rasa takut dan sedih..”

    masalah ‘penungguan yang merusak prioritas’ pun juga udah saya singgung

    quote 2:
    “ingatlah bahwa episode hidup tidak melulu persoalan cinta kekasih,
    tema itu ada di urutan ke-lima (baca: sebuah do’a)..”

    maksud saya: ada prioritas ‘umat’ di atasnya..

    soal kegelisahan masalah jodoh pun sudah saya siratkan pada quote 1, yang disana melingkupi bagaimana kita berserah penuh kepada Allah termasuk tentang takdir..

    mengenai ‘menunggu mati’,
    seperti yang saya sudah tulis tentang memaknai ‘menunggu’,
    menunggu mati bukan berarti ‘diam dan takut’,
    tapi lebih kepada ‘ingat dan mempersiapkan’,
    toh imam ghazali menulis bahwa hal yang pasti terjadi dan paling dekat dengan kita adalah: mati,
    bukankah sesuatu yang ‘pasti’ itu lebih layak ditunggu?

    dan motivasi akan kematian tidak sebatas ibadah,
    contohnya yang disebut itu: mempersiapkan diri menjadi legenda,
    bukankah itu juga berarti berusaha agar setelah mati pun tetap di kenang masyarakat?

    “hidup yang selalu menunggu kematian itu tidak berbeda dengan mati itu sama sekali
    (ini quotenya siapa yah saya lupa)”

    ah, saya lebih menjunjung quote yang ini:

    “Kami bersepuluh datang kepada Nabi saw, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” [HR Ibnu Majah]

    tentang suatu yang bisa seperti ‘teh botol’ menemani penantian yang makan ati,
    itu tergantung masing2 sih sukanya apa,
    klo saya sih (lagi2) seperti di komen saya yang kedua

    quote 3:
    “temen itu selalu ada,
    klopun satu saat temen itu lg ‘berhalangan’,
    masih ada Dia..
    sesuatu itu selalu ada,
    klopun satu saat sesuatu itu lg ‘berhalangan’,
    masih ada kitabNya..”

    simpelnya,
    misal lagi kesel nunggu temen yang ngaret,
    bisalah diisi dg mengulang hafalan quran,
    jadi gada ruginya kn,
    hati pun tentram 🙂

    [maafkan saya yang awam dalam menyampaikan ide sehingga mungkin menimbulkan salah paham]

  19. wah senagnyah temen temen pada berantusias diskusi disini. diskusi yang berawal dari kata sederhana “menunggu”. kalau menurut saya menunggu emeng bisa diartikan macem macem, tergantung bagaimana polapikir dan wawasan yang akan mempengaruhi seseorang dalam memutuskan sesuatu.
    tentang menunggu mati, saya sepakat sama kasfi dan imamul( “m” nyah satu, hehe ) bahwa seharusnya menunggu mati bukanlah dengan takut tapi lebih kearah mempersiapkan, sayangnya gag semua orang mampu menyadari dan melakukannya.
    mengenai teman saat kita menunggu mati, menurut sayah ituh adalah sebuah pilihan, kepada siapa kita akan “membagi: penentian kita. entah pada teman, saudara, keluarga, terutama pada 4w1.
    mungkin yang harus ditekankan adalah cara pandang kita, jangan sampai setelah kita memutuskan untuk menunggu sesuatu( entah apapun itu ) setelah hasilnya tidak memuaskan atau dirasa” nampak ” tidak sepadan dengan proses penantian kita, kita malah kecewa dan mencari cari orang untuk disalahkan.hehe..
    jadi menunggu atau melupakan. itu adalah sebuah pilihan. 🙂

  20. Menunggu adalah suatu pertaruhan antara ada dan ketiadaan, yang merupakan dua hal yang saling berseberangan, dan jembatan yang menghubungkan antar mereka hanyalah kepercayaan, bahwa sesuatu (atau seseorang) yang sedang ditunggunya, akan kembali suatu saat.

  21. kalau suatu saat dia tidak pernah kembali?
    apa mungkin kamu akan terus “membatasi” hidupmu dan harapanmu hanya kepadanya?
    mungkin kamu mencintai dia, sangat mencintai dia, tapi..
    hidupmu juga butuh cinta darimu.
    🙂

  22. Menunggu. Itu atas kesepakatan bersama.
    Menunggu. Walaupun sudah saling tahu tak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
    Menunggu. Memantapkan pilihan dengan mempertimbangkan setiap konsekuensi yang mungking terjadi.
    Menunggu. Berharap apa yang dilakukan bukan sekedar untuk yang ditunggu, tapi bermanfaat untuk siapapun.
    Menunggu. Karena harapan tertinggi tidaklah untuk dirinya, melainkan untuk meraih ridhoNya, walau tidak bersama dirinya yang ditunggu suatu saat nanti.
    Menunggu. Karena kata-kata dan komitmen tidak sesederhana yang dikira.
    Menunggu. Karena begitu berharganya dirinya.
    Menunggu. Dan di dalam proses itu saling berharap yang terbaik satu sama lain, walau takdir mengatakan lain.
    Menunggu. Tanpa berharap akan dirinya, tapi menyimpan dalam mimpi2 masa depan, dan semua sudah dipasrahkan kepadaNya apapun yang akan terjadi.

    Itulah kisah saya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s