[opini] Hak pilih sabagai pilihan untuk perubahan

Menggunakan hak pilih bisa dikatakan sebagai bentuk lain dari kepedulian dan juga kesadaran yang mampu kita berikan selaku warga negara yang memang memiliki hak serta kewajiban yang terikat dengan undang undang. Sayangnya kesadaran ini sering kali terbengkalai dengan alasan alasan yang mengatas namakan hak, kebebasan tidak memilih, ketidaktahuan akan calon calon yang akan dipilihnya dipemilu, dan beragam alasan yang kerap dikemukakan untuk membenarkan aksi golputnya. Lain halnya dengan orang orang yang sengaja tidak menggunakan hak pilihnya dikarenakan perasaan kecewa atau mungkin memang berniat tidak mau mengikuti pesta rakyat ini sejak awal. Sangat disayangkan jika aksi golput tersebut menjadi sebuah cara pandang dan ekspresi lain dari ketidakpuasan. Golput tersebut bukanlah sebuah bentuk protes yang mampu memberikan solusi dari keterpurukan yang ada, terlebih dijadikan sebagai sebuah seruan terbuka seperti yang dilakukan oleh salah satu ketua dewan syuro partai tertentu yang pernah menghimbau kepada para kadernya melakukan golput beramai ramai karena kecewa dengan hasil keputusan KPU pusat. Aksi aksi golput dengan dilatarbelakangi alasan alasan tersebut hanya akan membuat masalah baru dengan karena bisa mempengaruhi jumlah quota kursi pemerintahan yang akan diduduki.

Jika memang benar benar menginginkan perubahan, maka kita selaku cendikiawan muda tentulah mampu melihat peluang untuk menjadikan pemilu sebagai jalan melakukan perubahan. Jangan sampai mengemukanan alasan mengalami kebingungan saat menentukan salah satu dari banyak pilihan namun tidak ada usaha yang berarti dalam membuka wawasan untuk lebih mengenal calon yang sekiranya mampu mengemban amanah setelah pemilihan. Salah satu cara untuk mendapatkan informasi tersebut adalah dengan menyempatkan diri mengikuti berita baik dimedia cetak ataupun elektronik dan mengunjungi situs sutus resmi yang bisa dijadikan referensi. Salah satu situs tersebut adalah situs resmi KPU yang menjelaskan mengenai agenda agenda KPU terkait pemilu, http://www.caleg-pemilu2009.info/ atau http://kpu.go.id, dan juga situs situs resmi dari partai yang hendak kita dapat informasinya lebih jauh. Jika pada akhirnya memang merasa tidak bisa menemukan wakil yang terbaik maka pilihlah wakil yang sekiraya lebih baik dibandingkan yanglainnya sebagai solusi. Jangan sampai pemilu yang hanya tinggal empat puluh satu hari lagi sebelum tanggal 9 April 2009 terlewat tanpa menggunakan dan memberikan kontribusi untuk melakukan perubahan. [ANP]

Advertisements

7 thoughts on “[opini] Hak pilih sabagai pilihan untuk perubahan

  1. ada yang bilang golput juga sebagai suatu bentuk pilihan,
    yaitu pilihan untuk tidak memilih dikarenakan diantara semua calon ‘yang dipilih’ tidak ada yang layak untuk jadi wakil/pemimpin sehingga berkontribusi memilih hanya akan memberi kontribusi untuk bencana,
    yang lain beralasan karena bentuk kekecewaan atas sistem yang ada..

    saya melepaskan pembicaraan ini dari kajian politis tentang penggunaan hak pilih. setidaknya ada tiga hal yang menjadi ‘hujjah’ bagi saya pribadi untuk mengalahkan argumen golput di paragraf pertama.

    1. seorang rekan pernah bercerita kepada saya tentang pembicaraannya dengan satu masyarakat. penduduk itu berkata kira2 begini:
    “kalau mas yang mahasiswa, yang intelek gini aja milih golput, gimana saya yang rakyat biasa?!”
    maksudnya justru sebagai mahasiswa kita menjadi bahan referensi bagi masyarakat. mahasiswa yang dipandang masyarakat sebagai pihak netral yang punya kemampuan dan keluangan untuk mengkritisi kriteria yang benar baik atau buruk. dibanding dengan masyarakat biasa yang disibukkan dengan kehidupannya pribadi, tidak punya prioritas untuk mengkritisi kriteria, dan awam politik. akhirnya pilihan jatuh kepada ‘kerabat dekat’, atau ‘siapa yg berani bayar’, atau mungkin kepada ‘siapa yg bisa memuaskan telinga dengan kata-kata indah’ (padahal semu).
    tapi satu hal, sebagai mahasiswa kita harus tetap menjaga kenetralan. jika memang berniat memberi pencerdasan politik pada masyarakat, jangan bawa-bawa label. kalaupun ada yang berniat kampanye karena berafiliasi pada partai tertentu, saat membina masyarakat bawalah atribut ‘kader partai’ dan lepaskan status ‘mahasiswa’.

    2. tatanan masyarakat membutuhkan pemimpin. bahkan dalam scope yang lebih kecil seperti kasus safar (perjalanan), disyari’atkan untuk memilih pemimpin/penanggung jawab perjalanan. golput berarti mengganggu mekanisme pemilihan pemimpin. dan akhirnya berarti merusak tatanan masyarakat.

    3. fatwa MUI mengharamkan golput. dan sebagai muslim di indonesia saya harus ikut keputusan ulama yang berwenang. agar tidak melebar gak jelas, kontroversi fatwa MUI ini tidak perlu lagi ikut-ikutan diperdebatkan disini. saya tidak dalam kapasitas dan hak untuk mengkritisi keputusan selevel ‘fatwa ulama’.

    akhirnya saya memilih setuju pada opini ini. bahwa adalah suatu kewajiban untuk mencari referensi yang cukup dalam memperoleh bekal menghadapi pemilu legislatif dan presiden.
    dan perubahan yang didambakan tidak akan terjadi dengan diam serta tidak memilih.
    solusi dari kekecewaan akan kondisi pemerintahan adalah dengan berkontribusi memilih atau mengikuti gerakan pembaharuan atau bahkan mencalonkan diri sendiri. golput hanyalah memuaskan emosi sesaat yang berjangka pendek sedangkan jangka panjang menjadi hancur. sungguh naif dan piciknya orang yang berorientasi pada visi dekat dan tidak memikirkan visi yang jauh ke depan.

    sebagai tambahan, mengingatkan kata2 yang familiar di mulut saya pada PMB2007 dan INKM2008: mahasiswa salah-duanya sebagai guardian-of-value dan agent-of-change.
    terkait gelaran pemilu, hendaknya ikut berperan untuk mencerdaskan masyarakat di segi politik. keluarga? tetangga2 kos? teman? termasuk blog juga bisa menjadi sarana.

    demikian pendapat saya,
    dan setiap orang berhak diterima dan ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah.

    (jangan lupa, sebentar lagi juga ada pemilu raya KM ITB)

  2. assalamualaykum kak.. maaf baru menaggapi, lagi sibuk kemarin kemarin. hehe
    alasannyah menurut arin masuk akal juga, walaupun sebenrnya penentu golput atau enggak ituh lebih kepada kesadaran diri amsing masing 🙂

  3. wa’alaykumussalam wr wb..

    itu dy,
    kesadaran itu yg perlu ditumbuhkan,
    salah satunya dg wacana-wacana semacam ini..

    kadang,
    klo semua berpulang pada kesadaran masing2 bisa kacau akibatnya..

    semoga kesibukannya menjadi berkah..

  4. iya juga ci kak. tapi emang gag mungkin semudah menbalik telapak tangan.
    iyah neh. lagi sibuk banget 😀

  5. yap, yap. tapi gag semua orang menyadari dan gag semua orang juga mewujudkannya dengan cara cara yang arif 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s