[hikmah] marah, marah, marah

 

marah1Kamu pernah marah pada seseorang? Apa kamu juga pernah membenci seseorang? Bagaimana caramu untuk melampiaskan rasa benci itu? Membuat puas diri setelah menyalurkan semua marah dan dengki yang ada di hati?

Apakan itu dilakukan dengan memalingkan wajah saat berhadapan dengannya? Berpura pura tidak mendengar saat melihatnya mencoba menyapa? Ataukan membalasnya dengan berkata kata kasar? Atau mungkin menceritakan aib-aib yang diketahui pada orang lain? Atau mungkin cara ampuh yang bisaa dilakukan, yaitu dengan mendiamkannya? Berkata ketus dan membentaknya??.

Yap ada banyak ekspresi yang bisa saja kita lakukan saat kamu merasakan sebuah kemarahan, sebuah kekesalan, sebuah kekecewaan. Tapi kadang ada satu hal sering terlupakan, bagaimana jika orang yang sudah kita marahi habis habisan, kita perlakukan kasar, kita bentak sepenuh penuhnya kemarahan yang tersalurkan, ternyata tidak bersalah? Bagaimana jika ternyata dia melakukan semua itu tanpa sebuah ksengajaan dan tidak menyadari bahwa itu semua adalah sebuah kesalahan?

Lantas apa yang kita lakukan? Mudahkan mengatakan “ maaf, saya sudah melakukan kesalahan karena marah padamu”. Ataukah kita tetap bersikap angkuh dengan enggan berkata maaf dan berlalu sambil membiarkan semua seolah tidak terjadi apa apa. Membiarkan kita adalah posisi “benar” dan dia haruslah yang “salah”?.

Semua itu terjadi padaku. Posisi dimana aku bertanya tanya apa sebenarnya kesalahan yang aku perbuat hingga membuat dia memalingkan wajah ketika aku mencoba menyapa setelah siang itu aku dibentaknya karena tidak melatakan sepatu di rak sepatu ruang asisten. Alasan yang menurutku bisa disampaikan dengan jauh lebih baik karena selama ini yang aku perhatikan jika ada asisten lain terutama asisten ikhwan maka teguran yang diberikan begitu”halus”. Diperingatkan sambil bercanda meski telah berkali kali tidak menaruh sepatu iu dirak sepatu. Bahkan sepatu sepatu itu dibereskannya dalam rak rak yang ada. Sering kali hanya ada satu sepatu yang tertinggal ( jika saat itu dialah yang “berinisiatif” membereskannya). Yap, sepatu itu adalah sepatuku, entah kenapa sering kali begitu hingga akhirnya aku menerima suara “keras” itu. Sesutu yang sebetulnya sederhana dan bisa disampaikan dengan teguran yang lebih baik karena saya rasa kami adalah orang orang yang berpendidikan. Namun ternyata, setinggi apapun pendidikan seseorang belumlah tentu membuat orang itu menjadi santun. Menjadi bijaksana, menjadi mampu bersikap lebih dewasa. Lihatlah bahwa hal yang sepele saja bisa menyinggug dan meyakiti hati orang lain hanya karena dikemas dengan cara cara yang tidak baik.

Hingga saat ini aku masih menerima sikap ketusnya sejak kejadian itu. Saapaanku dibalasnya dengan sebuah palingan muka dan pura pura tidak mendengar. Senyum yang aku lempar seolah terasa pait hingga mampu membuatnya membalas dengan muka yang masam. Aneh, padahal kami jarang berinteraksi, namun sikapnya begitu berani menghakimi. Kami memang jarang berinteraksi karena tidak ada satu divisi yang menggabungkan kami dalam sebuah tim yang sama. Hingga akhirnya aku mengirimkan sebuah surat, dalam surat itu aku bertanya apa kesalahanku sebenarnya?cukupkah alasan tidak menaruh sepatu sebagai dalih memalingkan wajah dan juga membentak. Hingga akhirnya aku mengiriminya sebuah surat dengan rule sederhana . Rule : jika dibaca dengan hati keruh, marah dan dengki, maka tulisan ini akan terasa sangat memuakan. Namun jika di baca dengan hati lapang, tenang, dan keikhlasan untuk bersabar. Maka tulisan ini akan terasa sebagai sebuah tanda dari indahnya seorang saudara menghargai saudaranya yang lain. Dalam surat itu akau meminta maaf kalau memang dimatanya aku telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. dalam surat itu aku bertanya hal apa yang yang membuatnya sanggup untuk memalingkan wajah, saat aku mencoba meminta maaf di acara UP fun fair,

marah3Dalam surat itu aku memintanya meluangkan waktu untuk bisa sekedar bertabayun dengan cara cara yang baik, “Dengan lebih bisa menjaga ucapan, menjaga sikap agar saat bertabayun nanti bukan saling menyakiti, tapi memang bertujuan untuk memperbaiki silaturahmi. Kalau memang ada kesalahan yang bisa kita perbaiki bersama, yuk kita sampaikan dengan hanif pula. . .yuk, kita saling perbaiki bersama pula:) untuk itu, jika kita bertabayun nanti, saya akan mengajak salah seorang yang saya yakin amanah untuk menjadi pihak ketiga.selain sebagai penengah, juga sebagai orang yang mampu bersikap lebih bijaksana. “ itu adalah ajakanku kepadanya. Namun ajakan itu tidak berbalas, hingga saat aku menulis artikel ini sayangnya beliau tetap memilih untuk mempertahankan sikapnya seperti dulu. Namun ternyata itu justru membuatku merasakan sesuatu yang luarbiasa.

Mulanya  yang aku rasakan adalah sebuah luka. Luka karena harus menerima sikap sikap beliau yang menyayat hati. Luka karena merasa tidak pernah mengetahui mengapa aku layak mendapatkan perlakukan “sesuka sukanya” seperti itu. Luka luka yang aku adukan saat buliran air mata ini tumpah di tengah sujud yang panjang. Luka yang akhirnya justru membuatku menjadi seseorang yang lebih mau membuka hati, seseorang yang lebih berhati hati saat berbicara dan menghakimi orang lain, berhati hati menyalurkan marah yang ada di hati karena justru hal itu bisa sangat menyakiti karena hal itu bisa saja menjadi sebuah penyesalan.

Saat itu aku menerawang, seandainya aku bisa bertanya pada Rassullulah, “ ya rassul, pantas saja engkau begitu mudah memaafkan, begitu santun. Apakah karena engkau tau benar bagaimana rasanya di caci? Di benci? Dan diperlakukan tidak adil? Orang yang mengetahui benar bagai mana rasanya disakiti orang lain seharusnya tidak mampu melakukannya pada oranglain bukan? Hingga engkau memilih memasrahkan semuanya hanya pada 4w1. Lalu dia memberikanmu ketenangan dan tidak ada kehawatiran dari apa apa yang mereka lakukan?”.

Ya, sekarang aku merasakan bahwa diperlakukan seperti itu ternyata menyakitkan, sebersalah apapun hal yang telah saudara kita lakukan. Maka kamu bisa memilih untuk memaafkan atau tetap membenci. Menjalin silaturahmi atau tetap menyakiti. Mengikhlaskan atau tetap bersikap dengki.  menyimpan keangkuhan dalam hati untuk tidak mau memaafkan hanya akan membuat hati ini kian berpenyakit saja. Percayalah, memaafkan dalam sebuah keihlasan ternyata  jauh lebih menenagkan. Tidak mudah memang, namun bukan berarti tidak mampu untuk dilakukan.

Kamu tau, mungkin hal yang aku rasakan ini bisa saja terjadi pada setiap orang, orang orang terdekat kita, saudara, bahkan pada orang yang asing yang baru saja dikenal seperti hal yang terjadi padaku. Syukur syukur kalau mereka mau memaklumi atau memaafkan semua amarah yang terlanjur disalurkan. Bahkan kemarahan yang terlanjur diungkap tanpa bertabayun (klarifikasi) lebih dahulu. Namun, Jika tidak?

Lantas apa yang selanjutnya aku lakukan?

forgive-me1Sejak sujud panjang itu aku mencari semua orang –orang yang mungkin saja pernah aku sakiti, entah itu dengan telfon, sms, YM atau apapun media yang bisa aku gunakan untuk meminta maaf kalau kalu masih ada jejak jejak luka yang aku torehkan. Ada yang memaafkan. Namun ada juga yang masih mendiamkanku sampai sekarang. Tapi, entah kenapa perlahan ketenangan menyusup kehati. Ternyata mendoakan orang orang yang telah menyakiti jauh lebih menyenagkan dibandingkan menyimpan kebencian.

Ya Rabb, sunggh besar keagunganMU, hingga hal yang sederhana saja mampu memberikan hikmah yang dalam. Sungguh hamba sangat beruntung ya raab, bisa memetik satu dari jutaan hikmah yang mungkin engkai beri dari kejadian ini.

hal ini adalah adalah pelajaran dan hikmah yang sangat berharga buat saya, untuk tidak mendiamkan, tidak bersikap ketus, kasar dan juga segera memperbaiki silaturahmi dengan orang orang yang pernah membuat saya tersinggung. Sebuah hikmah untuk sesegera mungkin meminta maaf jika telah menyinggung orang lain. Karena sebesar apapun kesalahan yang pernah diperbuat oleh seseorang, diberikan sikap ketus, bentakan, dan juga mendiamkan adalah hal yang tetap saja begitu menyakitkan untuk diterima oleh orang lain 🙂

maaf1kini aku kembali keminta maaf, bagi saudara saudaraku yang pernah merasa tersakiti atau pernah menyakiti. Semoga setelah ini, kita mampu berjalan dalam sebuah kebaikan yang besar di jalan NYA. Mohon diingatkan ya, kalau ternyata saya pernah menyakiti hati atau kesalahan kesalahan yang pernah saya lakukan dulu, masa kini atau nanti. katakan apa yang bisa sayang lakukan untuk bisa menebus luka yang pernah saya berikan. Semoga Dia juga berkenan untuk mengampuni karena meminta maaf dan memaafkan juga butuh sebuah pelajaran.

-Bintang-

Advertisements

23 thoughts on “[hikmah] marah, marah, marah

  1. hiks…hiks…

    maafkan saya arin… 😦
    kalau ada apapun yang saya lakukan
    yang saya sadari atau tidak..
    yang membuatmu..terluka…

    😦
    saya terharu sekali baca post yang ini…
    mudah mudahan orang yang melukai kamu itu diberi kelapangan hati oleh Allah..
    dan kamu diberi hati yang lebih lapang lagi untuk selalu bisa memaafkan..

    tentang rasul..
    saya sering berfikir hal yang sama..

    memang orang yang paling lemah lembut itu biasanya orang yang paling tahu pedihnya rasa disakiti..

    kalau disakiti pun inginnya sih bisa membalas,
    tapi apa daya,
    perangai kita gak diciptakan untuk membalas..
    akhirnya opsi yang tertinggal hanya memaafkan atau memendam dendam..
    memaafkan itu lebih sulit..

    tapi itu satu satunya jalan menuju kebebasan hati…
    =)

  2. jadi teringat ayat yang cukup familiar:

    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [QS Ali-Imran (3) : 133-134]

    kemudian dalam memaknai surat Asy-Syura (37) ayat 39-43,
    bagi orang yang dizhalimi memiliki tiga hak:
    1. membalas dengan yang setimpal
    2. bersabar dan memaafkan
    3. membalas keburukan dengan kebaikan

    poin ketiga adalah yang utama. tapi juga jangan terburu-buru melaksanakan ‘hak’ itu. perlakuan seseorang kepada kita seringkali merupakan cerminan perlakuan kita terhadapnya. saat orang ‘menzhalimi’ kita, hendaknya pertama kali direnungi apakah kita punya kontribusi dalam arti apakah kita lebih dahulu ‘menzhalimi’ orang itu?

    terkait sifat rasul yang begitu lembut itu sama sekali bukan karena beliau sering diperlakukan buruk lalu beliau menjadi santun (tidak mau orang lain merasakan bagaimana diperlakukan buruk). tapi semata-mata karena kecintaan beliau kepada ummatnya (lihat: cinta hakiki karena Allah hanya mendatangkan kebaikan – lihat: kisah dakwah ke thaif). selain itu juga karena karakteristik beliau sebagai teladan bagi manusia.

    jika si korban merasa perbuatan buruk yang menimpanya adalah akibat kesalahannya juga, maka ia akan minta maaf.
    jika si pelaku merasa perbuatan buruknya telah menyakiti si korban, maka ia juga akan minta maaf.
    jika perbuatan buruk yang menimpa si korban bukanlah konsekuensi dari kesalahannya melainkan murni kezhaliman si pelaku, maka ia pun juga akan minta maaf bahkan berusaha meraih keutamaan: membalas perbuatan buruk dengan perbuatan baik.

    iman itu indah bukan?
    sayangnya hawa nafsu (amarah) seringkali merusak segalanya.

    akhirnya,
    satu hal yang saya tidak setuju dengan tulisan si empu blog ini adalah judulnya: ‘marah, marah, marah’
    padahal:

    seseorang bertanya kepada Rasulullah, “(Ya Rasulullah) nasihatilah saya”. Beliau bersabda, “Jangan marah”. orang itu bertanya berkali-kali. Maka beliau bersabda, “Jangan marah, Jangan marah, Jangan marah.” [HR Bukhori]

    segala puji bagi Allah yang menurunkan rasul untuk mengajarkan islam (yang bersifat rahmat – seperti kasus pemaafan pada surat asy-syura di atas) tidak hanya dengan kata-kata dan tulisan tapi juga dengan perilaku beliau yang mulia untuk dicontoh oleh ummatnya. semoga dengan momen di bulan rabiul awwal ini -bulan lahir rasulullah- kita bisa lebih meneladani beliau.

  3. @ kasfi.
    he he.. tau gag kalu sebetulnya meninta maaf itu adalah bertanggungjawab. yap, bertanggungjawab untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
    sayah juga minta maaf kalu kalu ada yang salah sama sayah. he he 😛

  4. @ om denday
    eh, ada om denday.. hi hi hi..
    ampini sayah om, banyak dosa nih awak sama om

    0(_ _) o

  5. @ k’mamul
    kalau tentang yang rasullulah ituh sebetulnya pertanyaan yang retoris kak. saya cuman berandai demikian. setidaknya hal itu bisa membantu tetap berfikir positif. kalupun ternyata tidak demikian yah saya rasa gag masalah kalu mau diluruskan juga, cuman menurut sayah pikiran orang yang lebih tau rasa sakit itu seharusnya ya, akan lebih hati hati untuk bisa menyakiti orang lain.^_^’

    kalau yang kaka gag setuju judul marah, marah, itu menurut sayah neh yah ituh cuman masalah presepsi ajah 😀
    marah marah marah disini buakn menunjukan bahwa saya merasa marah, tapi hanya sebatas judul yang isinya mencoba membahas bagaimana sebetulnya “sisi” lain dari marah bisa disikapi. ya mungkin penyikapannyah bisa seperti tiga point yang kaka posting diatas 🙂

    akhir kata, maafin sayah juga yah kalu ada hal hal yang pernah bikin kaka gag suka. hehe 😛

  6. “on March 12, 2009 at 3:03 am”
    ckckck.. moga gak lupa qiyamullail gara2 asyik ngeblog..

    maaf,
    saya hanya cemburu,
    jika sosok yg saya cintai ‘direndahkan’ walaupun hanya sehalus retorika..
    (berlebihan bgt ya 🙂 )

    sama2,
    maafkan juga tindakan-ucapan-isyarat saya yg tidak berkenan..

  7. jika sosok yg saya cintai ‘direndahkan’ walaupun hanya sehalus retorika..

    gag ada pilihan kata lain kah yang lebih hanif selain “direndahkan”??? kalu begitu saya dunk yang merendahkan?
    tidakkah ituh sudah pasti menyinggung yah? kok masih terlontar juga?= =a
    bukan hanya kak kok yang merasa mencintai rasul, jadi menurut saya ci lebih hati hati aja menilai orang seperti yang ada diantara dua tanda petik diatas’. saya kan dari awal menegaskan, itu hanya pertanyaan yang saya juga gag tau jawabannya apa, dan itu saya coba posisikan biar tetap berfikir positif gag “saklek ” menetapkan bahwa presepsi saya ituh pasti benar kok ^_^’ . cuman opini, kalu salah yah sudah, cukup dibilang salah atau kurang tepat. dan diperingatkan dengan cara dan tempat yang tepat pula ci mneurut saya ^_^’ gag langsung memvonis kek tadi 😛
    kok gag dipertimbangkan dulu dari alasan dan tujuannya ya? sebelum menilai”merendahkan”?= =a

    gitu ci, cuman yah kalu di sebut merendahkan ya….
    apa lagi dinilai merendahkan rasul terlalu frontal ci menurut sayah mah, ini cuman pendapat sayah loh yah, kita kan gag bisa memaksakan kita yang harus benar juga 😛

    merendahkan itu kerjaan orang orang yang picik kak, apalagi sampai merendahkan rasul, waah…gag bisa “sembarangan” urusannya itu mah. kalu buat saya itu persoalan yang besar.
    jadi mungkin lebih difilter lagi aja.

  8. “he he.. tau gag kalu sebetulnya meninta maaf itu adalah bertanggungjawab. yap, bertanggungjawab untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

  9. Ternyata mendoakan orang orang yang telah menyakiti jauh lebih menyenagkan dibandingkan menyimpan kebencian.

    Terima kasih atas nasihatnya Mbak, saya juga berusaha melakukan hal ini.

  10. Pingback: Laki-laki Biasa

  11. Pingback: Laki-laki Biasa

  12. ..:)..salam kenal. bagus ni tulisannya. kebetulan lagi ‘berada pd situasi yg sama’ jadi search di gugel..trs nemu blog ini. Bagus!! :)..thx

  13. hihihihihi..
    allhamdulillah 😀
    senang bisa menginspirasi orang lain.
    apa lagi kalu yang di ” bagi itu” kisah nyata yang beneran terjadi…

  14. mungkin kamu harus memiliki sahabat yang juga mau menemanimu untuk merasakan ” tidak gampang marah” 🙂

  15. marah itu boleh, tapi sabar lebih baik:P
    kalau kamu gak bisa juga mengatasinya, cari teman atau komunitas yang “gak manas manasin kamU’ tapi bisa share.
    kalu ga ada juga, coba datangi Bk, bimbingan konseliang atau psikolog. kalau emang masalah “kejiwaan” kita berat baru ditangani psikiater.
    kebanyak orang itu beranggapan kalau orang yang di tangani psikolog atau psikiater ituh yang “sakit jiwa”. padahal penenganan emosi dengan konsultasi dengan psikiater itu (menurut saya) punya dampak yang besar. beda lho rasanyah dita curhat ke temen sama ke psikiater ^_^’
    yap, silahkan dicoba..:)
    memaafkan itu bukan hanya masalah mampu, tapi mau 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s