[hikmah] belajar menjadi seseorang yang dipimpin, bukan hanya ingin memimpin

leader_on_pedastal_photo27225540_std

Kamu tau? Membahas tentang bagaimana kita harus belajar menjadi seorang pemimpin pasti sudah diungkapkan oleh banyak orang. Bahwa seorang pemimpin harus mempu mengenai ZOA (zone of Acceptent atau daerah “penerimaan” dimana seseorang merasa tidak keberatan untuk melakukan sesuatu), pemimpin yang mampu memberikan kesempatan berupa Self Control ( kepercayaan bahwa seseorang mampu melakukan sesuatu dan menyelesaikan tugas dengan kemampuan yang dimilikinya) dan juga banyak lagi skill yang harus dimiliki sebagai seorang pemimpin. Tapi pernahkan kita juga belajar menjadi seseorang yang dipimpin? Memberikan kesempatan kepada oranglain mengembangkan ide dan juga kreatifitas yang mereka miliki. Toh, perasaan bangga, puas dan juga ingin diakui bukan hanya milik kita sendiri bukan?. Ternyata menjadi seseorang yang dipimpinpun perlu dipelajari dan tidak semua orang mampu dan juga mau untuk bisa melakukannya.

Hal ini benar benar saya rasakan diITB. Bergaul bersama orang orang yang”hebat”. Orang orang yang pertamakali memasuki kampus dengan semboyan” Selamat datang putra putri terbaik bangsa”. Orang orang yang juga memiliki visi jauh kedapan. Mungkin kebanyakan dari mereka atau juga kita mempelajari dengan baik bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin. Bagaimana caranya menjadi seseorang yang mampu mengatur orang lain. Jika terus menerus merasa dan juga terbisaa dengan  pola demikian, maka saat kita berada dalam posisi orang yang harus dipimpin oleh oranglain hanya akan membuat kita merasa tertekan. Merasa bahwa semua ide dan juga kreatifitas yang dicetuskan oleh orang lain hanyalah hal hal kecil yang tidak jauh lebih hebat dari apa yang mampu kita lakukan. Hingga pada akhirnya semua argument yang kita keluarkan hanya akan”menjatuhkan” pendapat orang lain. Jarang sekali “meng-iya” kan dan juga mendukung gagasan yang dirasa kurang oleh diri kita sendiri.

 Jika hal ini terus berkembang, bagaimana mungkin orang lain juga akan merasa nyaman untuk berada di dekat kita. Merasa percaya dan safe saat menjadikan kita partner untuk bisa bertukar pendapat dan juga bersosialisasi.

Salah satu dosen matakuliah MPD (manajeman potensi diri) yang juga seorang psikolog mengatakan bahwa “jika seseorang selalu merasa benar akan dirinya. Selalu mengaggap bahwa ide dan kreatifitas yang dikembangkan oranglain tidak lebih baik dari apa yang mampu dilakukan dirinya sendiri maka sesungguhnya orang itu sedang sakit”. Tuhan itu maha besar, menciptakan manusia dengan banyak kelebihan. Jangan sampai perasaan-perasaan”menyepelekan” orang lain membuat kita termasuk kedalam orang orang yang” mengecilkan kebesaran 4w1”. Naudzubillah.

Jika memang merasa benar dan ingin memperjuangkan sesuatu maka perjuangkanlah dengan cara cara yang baik. Dengan tutur kata yang baik, dengan sebuah kepercayaan jika kita mampu saling berbagi dan bergerak bersama dalam membuat seseuatu lebih baik dengan pahala yang jauh lebih besar. Memang ada saat saat dimana kita harus Agresif dalam memenuhi ambisi kita sendiri, tapi lebih banyak saat dimana kita harus belajar mengerti, belajar memberi, belajar melepaskan ego yang kita miliki untuk diubah menjadi sebuah keikhlasan. Kemampuan untuk menerima dan juga mendengarkan.  Anggaplah posisi kita saat berada sebagai orang yang dipimpin adalah satu bentuk lain dari “sedekah” dan upaya menyanagkan hati saudara kita sendiri melalui cara yang baik. Semoga bisa member inspirasi…karena dipimpin-pun butuh sebuah pembelajaran.

Wallohualam.

-bintang-

Advertisements

22 thoughts on “[hikmah] belajar menjadi seseorang yang dipimpin, bukan hanya ingin memimpin

  1. hobi ci kak 😀 asik banget nulis blog, he he
    refreshing ditengah”kesendirian”, halah lebay…:p
    tulisannya baru 88 kok yang di publish kak…

  2. bagus ih artikelnyah..
    pengen bisa nulis gini…

    tapi teh bintang..
    ada yang bilang kebenaran itu relatif lho..
    nah jadi gimana ya caranya kita bisa tahu apa kita benar apa lawan bicara kita yang benar..

    hihihi..
    salam kenal 🙂

  3. @neesa
    allhamdulillah. hampir semua tulisan yang i,saya buat disini terinspirasi dari kejadian yang saya alami sendiri 😀
    tentang kebenaran yang relatif, saya rasa bukan hanya kebenaran yang punya “potenti” menjadi relatif. tapi untuk itu 4w1 memberikan kita akal, hati dan ilmu yang membantu kita untuk “memilih” sesuatu, untuk memutuskan sesuatu…
    maka fokus utamanya adalah hati, akal dan ilmu ini…
    hati yang bisa menunjukan arah dalam membedakan kebenaran dan keburukan adalah hati yang dekat dengan rabbnya.. 🙂
    hehehe..
    wallohualam

  4. kebenaran ga relatif ko, ia datang dari Al-Haqq, Al-Quran, hanya persepsi manusia saja yg ‘relatif’ mempresepsikannya berbeda, nah setuju sm ana, hati yang bisa menunjukan arah dalam membedakan kebenaran dan keburukan adalah hati yang dekat dengan rabbnya..

  5. Setuju. Segala sesuatu di dunia ini relatif.
    Al-Qur’an lah yang nilai kebenarannya mutlak. Tinggal sejauh mana kita mampu memahaminya.
    maka dari itu kita perlu belajar dari kitabullah tersebut dan pastinya dari sekitar kita.

  6. Setuju, na.
    sangat cacat bila kita hanya terus menerus diajarkan bagaimana cara memimpin yang baik, tapi tidak pernah diajarkan bagaimana cara menjadi jundi (yang dipimpin) yang baik. Sebab, tanpa mampu memahaminya dengan bijaksana, yang terjadi hanyalah ego masing2 yang muncul untuk dapat memimpin.

    saya justru berharap materi itu masuk di salah satu materi MID AMISCA tahun ini. menurut ana gimana?

  7. hehehehhe:P mintalah sama tim materinyah. sayah kan acara. hi hi 😛
    biat sayah ci gag masalah 🙂

  8. ana menyatakan:”tentang kebenaran yang relatif, saya rasa bukan hanya kebenaran yang punya “potenti” menjadi relatif”
    jd kbenaran itu relatif?
    bner?
    mkanya coment yg kk dong 😀
    sperti antagonis, tp ga kn? 🙂

  9. kalu tentang kebenaran yang relatih, yah menurut saya neh yah.. kita kan udah punya “bekal” untuk bsia menentuakn yang baikd an yang benar. nah sekarang untuk “menambah” modal yang dah kita punya ituh, butuh ilmu. jadi makin banyak ilmu, pemahaman dan kebijaksanaan seseorang makin bisa dia melihat dan membedakan yang benar dan yang salah. wallohualam 🙂

  10. hmm..ana blm menangkap intinya
    kl kebenaran itu relatif, bagaimana bs “bekal”itu mncari kebenaran..
    mksd kk, “bekal” itulah yg relatif berbeda u stiap insan.
    bkn pd kbenaran itu sndr, stuju gag?
    udh nangkep? 🙂
    tp g setju jg gpp 🙂

  11. Wah bagus banget tulisannya…
    Dapet ilmu baru dari sini 🙂

    Disaat banyak orang sibuk ingin menjadi pemimpin, lewat tulisan ini kita diajarkan bagaimana menjadi orang yg dipimpin..

  12. bc lg dunk yg atas,
    kebenaran itu ga relatif
    kl kebenaran itu relatif, bagaimana bs “bekal”itu mncari kebenaran..
    gimanah??stuju? 🙂

  13. let’s just make it simple:
    kebaikan itu relatif.
    kebenaran itu mutlak.
    suatu yang baik belum tentu benar.
    tapi yang benar sudah pasti baik.

    lalu apa itu kebenaran?
    jawab saja di nurani (fitrah) masing-masing 🙂

    sangbintang yang pernah ikut kuliah tafsir fatihah mungkin inget,
    saat manusia memohon ditunjukkan pada kebenaran, kontan langsung dijawab tentang kebenaran yang diminta itu pada halaman sebelahnya.

  14. kebenaran itu kn tersurat di Al-Quran 🙂
    kl nanya ke nurani masing2 yg bersih msh bs..
    tp yg sudah terkotori bagaimana?(namanya bkn nurani lg ya?)
    nurani – hati yg tercahayai cahaya iman..

  15. jiwa/nafs yg msh suci (fitrah) ya, tp ktika fitrah td terkotori, bkn lg fitrah yg berperan, tp hawanafsu(non material) dan syahwat (material)m jd mnjd kabur..
    mudah2an kita kembali minimal dlm keadaan fitrah..
    amiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s