[artikel]permisi

permisiini adalah sebuah tulisan yang bercerita tentang sebuh kata, permisi. satu kata sederhana yang bisa mengubah kesan satu orang terhadap orang lain. salah satu kata yang bisa menggambarkan sopan santun dari seseorang dan bagaimana cara dia menghormati orang lain. Tanpa bermaksud mengenelarisir, agaknya budaya mengatakan kata ini makin pudar saja. Teguran ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang memanggil diri sebagai golongan muda, namun beberapa orang yang sudah berumurpun kerap melupakan kata permisi ini saat melakukan sesuatu. ambil saja contoh kasus yang terjadi pada rumah kami baru baru ini. posisi ayahku sebagai dosen membuat beliau sering sekali mendapat tamu di rumah kecil kami. bahkan pada saat saat tertentu, rumah mungil kami harus didatangi puluhan orang sekaligus. meski sesak tapi allhamdulillah masih bisa tertampung, namun bukan hal itu yang ingin saya krisitisi. kemarin saya baru saja menegur salah satu dari gerombolan mahasiswa datang di rumah kami. pasalnya, saat mereka hendak pulang dan menuju pintu keluar, tidak ada satupun dari mahasiswa dan mahasiswi tersebut yang berpamitan meski meski melewati bunda, saya dan adik saya. mereka langsung pergi begitu saja dan meninggalkan pintu dalam keadaan terbuka. mungkin bagi beberapa orang hal ini hanyalah hal sepele, namun bagi saya yang nampaknya masih berpikiran kolot, he he, hal tersebut adalah sebuah sopan santun yang harusnya tetap dijaga, bukan karena ingin dihormati atau gila hormat dengan ucapan permisi, namun hal tersebut saya nilai sebagai salah satu upaya untuk menghargai.

ketika KPpun, saya kerap menemukan barang barang saya dikenakan oleh salah seorang teman sekamar, alsannya adalah beliau merasa yakin pasti akan diizinkan. namun hal tersebut membuat saya merasa tergelitik dan sedikit memberikan argument kapada teman saya tersebut. “saya tidak keberatan ada barang saya yang kamu pakai, asalkan meminta izin terlebih dahulu agar saya tidak mencari cari ketika memerlukan barang tersebut.Mengenai anggapan pasti diizinkan tadi,saya rasa hal itu kurang tepat, karena kita tidak selalu bisa memprediksi semua hal. kita juga belum tentu bias memutuskan semua hal,  ada baiknya saat menggunakan barang barang milik orang lain, kita meminta izin terlebih dahulu meski memang merasa pasti akan diizinkan. setidaknya hal itu dilakukan untuk menjaga diri dari fitnah”.

dirumah kami, saya tidak terbiasa dengan kondisi seperti itu. jika belum mendapatkan izin dari pemiliknya maka kami tidak berani menggunakannya. terutama bagi saya dan adik saya, untuk sebatang ballpointpun yang tergeletak dan tidak jelas milik siapa, salah satu dari kami tidak akan berani menggunakaannya sebelum mendapatkan izin atau kepastian dari pemilik ballpoiont tersebut, meski kami yakin, jika kami gunakan pasti akan diizinkan toh ballpoint tersebut memang berada di ruang tengah rumah kami. Kami lebih memilih tidak menggunakannya atau membeli baru dibandingkan menggunakan barang yang belum jelas izin dari pemiliknyannya. makanya, saya sedikit terkejut dengan mulai lunturnya budaya mengatakan permisi dan meminta izin. Entah mungkin saya yang terlalu kolot atau memang kondisi yang memposisikan demikian. namun lebih dari itu, meminta izin dengan mengatakan permisi bukan hanya sebagi bentuk dari sopan santun, tapi juga sebuah bentuk dari menghormati oranglain. sebuah bentuk dari menjaga amanah dan menjaga diri dari fitnah yang mungkin terjadi.  Semoga bisa menjadi inspirasi bahwa satu kata seperti layaknya permisi, bisa sangat memiliki arti.

wallohualam

-bintang-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s