[hikmah] mudah dan tidak mudah

copy-of-susahnya-berjuang

menyerah itu mudah. kamu hanya perlu berhenti dan tidak peduli. Tapi, berjuang tidak mudah, kamu perlu berkorban, sabar dan ikhlas. untuk berjuang kamu perlu mengerti, kamu perlu mengalah dan kamu perlu tau dengan pasti apa yang sebenarnya kamu perjuangkan.

Menyerah itu mudah, kamu hanya tinggal berkata “aku sudah tidak sanggup lagi”. Pasrah. Tapi, berjuang tidak mudah.  Kamu harus bersikap jauh lebih dewasa dan tabah dalam menghadapi semua keterbatasan yang ada.

Menyerah itu mudah, kamu hanya tinggal melapaskan apa yang sudah kamu genggam, melupakan apa yang sudah kamu jalankan. Tapi, berjuang tidak mudah. Kamu harus pandai mengubah yang “salah” menjadi hikmah, mengungkap hikmah dibalik musibah. Dan menjadikan musibah sebagai bentuk lain dari “hadiah”.

Menyerah itu mudah. Kamu hanya perlu berpura pura tidak tahu atau mengagap semuanya telah berlalu. Kamu juga bisa mengatasnamakan batas diri yang kamu mliki untuk menyerah. Batas yang terkadang tidak bisa diketahui secara pasti. Tapi, berjuang tidak mudah, kamu harus terus mengisi pikiranmu dengan pandangan pandangan yang positif, kadang kamu harus merelakan diri dan hatimu terluka hanya untuk bisa terus berusaha.

3274649768_545e90c94e

menyerah itu mudah, tapi “pahit”. mudah, tapi mengecewakan. mudah, tapi ingkar.

berjuang itu sulit, tapi manis. sulit tapi memuskan, sulit tapi membanggakan.

Pada akhirnya, kamu sendirilah yang harus menentukan. Mudah, atau tidak mudah.

-Bintang-

Advertisements

14 thoughts on “[hikmah] mudah dan tidak mudah

  1. Subhanallah…

    Mudah itu ada di dalam jiwa…
    Jiwamu merasa mudah.. maka mudahlah segala sesuatu..

    Maka berkata mudah adalah keharusan jika ia bermuara untuk berjuang mencintai-Nya…

    Nice article..

  2. Mudah dan gampang hanyalah didalam hati. setiap hati dapat mendifinisikan sejuta makna anatar mudah dan susah, Tapi yang jelas Allah-lah yang membuat segalanya menjadi mudah dan setanlah yang mebuat jadi susah, sedangkan kita hanya memilih,

    JADI JANGAN KATAKAN BAHWA MUDAH ITU DI JIWA KITA, MUDAH ITU DARI ALLAH

  3. “JADI JANGAN KATAKAN BAHWA MUDAH ITU DI JIWA KITA, MUDAH ITU DARI ALLAH”

    sahabat, memang Dialah yang maha memberikan kemudahan. dan DIa selalu ada bersama kita, di jiwa kita…
    hanya tinggal bagaimana kita mneyadarinya…
    jadi kenapa kita tidak boleh meyakini dalam jiwa kita? kalau kalau kemudahan itu ternyata datang dari 4w1?
    🙂

  4. [sok tau mode=on]
    Sebenarnya mudah dan tidak mudah hanya lah kata, semua itu kembali bagaimana kita melihat sesuatu.

    Kalau kita berpikir bahwa sesuatu susah, maka sesuatu itu akan benar menjadi susah.
    Kalau kita berpikir bahwa sesuatu itu mudah, maka sesuatu akan benar menjadi mudah.

    Semua tergantung bagaimana kita menafsirkan sesuatu itu dalam diri kita.

    Kalau bagi saya sendiri, saya selalu memegang kata berikut:
    In ‘arafallaaha, ajaalattuhmata. Wa qaala, kullu fi’lihi bilhikmah
    (Barang siapa yang mengenal Allah, maka akan hilanglah prasangka buruk (kepada-Nya). Dan dia berkata, segala yang diberikanNya ada hikmahnya)
    Sorry, tak bisa nulis arabnya nih di komputer saya, padahal nulis kanji bisa -_-

    Jadi menurut saya, mudah, susah, suka, benci dan kata-kata lainnya itu hanya merupakan pembias dari kebenaran yang ada

    Semoga bisa memberikan masukan. kishishishi
    [sok tau mode=off]

  5. kalau saya ci, lebih melihatnya sebagia “ekspresi”. ekspresi yang harus dipeajari cara menungkapkannya dan merasakannya 🙂

  6. (waktu ssdk saya janji untuk nyimak artikel ini, maaf baru sempat 😦 )

    Khalifah `Ali bin Abi Thalib (KarromAllohu Wajhah) pernah berkata:
    “apabila kamu merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan yang dilakukan akan terus kekal..”

    Temukan nilai kebaikan dari apa yang kita lakukan. jika itu baik, mudah maupun tidak mudah bukan soal. Namun jika ternyata itu sia-sia/tidak baik/maksiat, (jangankan tidak mudah) walaupun mudah, tetap saja jangan dikerjakan.

    Berjuang (untuk kebaikan) itu mudah. Tapi yang bisa merasakan kemudahannya hanyalah dia yang berani melaksanakannya.

    Orang yang menyerah (baik di awal maupun di tengah jalan) selamanya tidak akan mengerti kemudahan yang ada pada perjuangan. Ia akan selalu beranggapaan bahwa hal itu tidak mudah.

    Sedangkan orang yang memilih terus berjuang kelak akan memahami bahwa:

    “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” [QS Al-Lail (92) : 4-7]

    Orang yang beriman, menjalani perkara yang zhahirnya sesulit apapun, niscaya batinnya akan mudah melaluinya. Meskipun kesukaran terbentang, pasti ada saja petunjuk/ilham/jalan dari Allah untuk mengatasinya. Entah lewat tangan sendiri maupun bantuan orang lain.

    Ambil pelajaran dari kisah Nabi Musa dan Bani Israil. Waktu itu mereka ‘memilih’ berjuang untuk melepaskan diri dari tirani Fir`aun dan pengikutnya. Susah payah eksodus menuju tanah terjanji. Taat pada perintah Allah, mereka melalui rute memutar, padahal dengan demikian jaraknya menjadi lebih jauh. Padahal lagi ada rute yang lebih ringan. Namun karena mencoba patuh (taqwa) mereka menuruti arahan Nabi Musa menempuh jalur yang panjang. Hingga akhirnya kejaran fir`aun mendesak, menjepit mereka. Di depan ada laut, di belakang ada tentara musuh. Buntu. Tapi Allah memberi jalan dengan terbelahnya laut.

    “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ‘sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul’. Musa menjawab, ‘sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’. Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu’. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” [QS Asy-Syu`ara’ (26) : 61-63]

    Jangan dikira kisah di atas hanya beredar di masa itu. Filosofinya tetap berlaku sampai sekarang.

    Tema yang sama juga diangkat oleh Buya Hamka dalam karya beliau Tafsir Al-Azhar. Jangan gentar menghadapi kesukaran. Karena dalam kesukaran pasti ada kemudahan. Syaratnya jelas: kerja keras-cerdas-tuntas-ikhlas. Sebab Allah tidak pernah mengecewakan orang yang bertawakkal kepada-Nya.

    “Karena sesungguhnya bersama kesulitan (al-`usri) itu ada kemudahan (yusran), sesungguhnya sesudah kesulitan (al-`usri) itu ada kemudahan (yusran).” [QS Al-Insyirah (94) : 5-6]

    Sekalian kaji aspek kebahasaan. Perhatikan surat Alam Nasyrah ayat 5-6. Dari segi redaksi ayat 5 dan ayat 6 nyaris memiliki ide yang sama. Kenapa harus diulang dua kali?

    Jika ada bentukan ma`rifah (contoh ini: al-`usri = kesulitan) pada dua kalimat, maka itu adalah benda yang sama. Sedangkan jika ada bentukan nakirah (contoh ini: yusran = kemudahan) pada dua kalimat, maka itu adalah benda yang berbeda.

    Dari kedua ayat tersebut diambil arti: pada tiap satu kesulitan (al-`usri) ada dua kemudahan (yusran) yang menyertainya. Ini diungkap oleh Imam Malik yang dalam karyanya Al-Muwaththa’ pada kitab Jihad menulis satu riwayat:

    Dari Zaid bin Aslam, dia berkata: “Abu `Ubaidah bin Jarrah menulis surat kepada Umar bin Khaththab yang isinya menerangkan bahwa suatu Tentera Rum yang sangat besar telah siap akan menyerang mereka, kekuatan tentara itu amat mencemaskan.”

    Surat itu dibalas oleh Umar bin Khaththab, di antara isinya: “`Amma Ba`du. Bagaimana jua pun kesukaran yang dihadapi oleh orang yang beriman, namun Allah akan melepaskannya jua dari kesukaran itu, karena satu ‘usrin’ (kesulitan) tidaklah akan dapat mengalahkan dua ‘yusran’ (kemudahan).”

    Nah, anak TK juga ngerti,
    berjuang = kesulitan + kemudahan + kemudahan
    (dicoret habis) + kemudahan
    berjuang = kemudahan

    Kesimpulannya berjuang itu mudah!

    Kemudahan yang bagimana?
    Hmm, kadang ada hal-hal yang harus dialami untuk bisa mengerti. Tidak cukup dijelaskan belaka. Silakan ingat secara jujur pengalaman-pengalaman dalam mengarungi kesulitan. Pernah mendapat kemudahan saat itu? Pasti pernah.

    WAllohu a`lam.

    (looking for solution? see The Quran!)

  7. subhanallah kaka, niat bener ngasih feedbacknya. seperti biasa, bahasannya pasti mendalam. makasih banyak:)
    btw, kaka ini belajar dimana dan belajar apa ci? kirain di ITB cuman kuliah ajah, tp keknyah banyak plus-plusnya. hehe

  8. belajar apapun yg bisa dipelajari. 😛
    kalau mau tau:
    http://imamul.wordpress.com/about-me/

    lulus itu bukan soal ‘tepat waktu’ ato ‘pada waktu yg tepat’ ato apalah. tapi soal sejauh apa kita udah belajar di kampus, apa yang kita capai, menjadi apa, berinteraksi dengan siapa, dan menebar manfaat seluas apa.

    makanya manfaatkan kehidupan kuliah dg sebaik-baiknya, selagi belum lulus. gak akan kerasa loh, tiba-tiba ‘udah lulus aja’. jgn sampe pas wisuda malah nyesel. 🙂
    (dulu ada ‘penyesalan’ jg wkt sy wisuda 😦 )

  9. feel free..

    tapi ati2 ya. khawatir ada yg gak berkenan. dulu sy pernah publish note di FB. langsung kontroversial, banyak pro-kontra, ampe situasi agak ‘panas’ jg. trus makin panjang krn diangkat di diskusi rileks.comlabs.itb.ac.id jg. padahal itu pertama kali bikin wacana di FB dan satu-satunya (sy jd ‘trauma’, belum berani publish sesuatu di note FB lg). 😛

    eh, yg link ‘about-me’ jgn ikut2 dijadiin status ya <_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s