[opini]sendirian

alone

Kamu tau…

Kenapa kita selalu merasa sendiri? Mengapa hampir semua pekerjaan yang harus diselesaikan, rasanya harus kita yang melakukannya sendirian? Padahal, pekerjaan yang kita kerjakan adalah pekerjaan besar yang harusnya mendapatkan perhatian dari banyak pihak.

Jawabannya sederhana saja, tidak semua hal yang penting untuk kita juga penting untuk orang lain. Itulah kenapa seseorang bisa bersikap sangat acuh akan hal hal yang kamu perjuangkan.

ikhlas

Kadang saya bertanya, mengapa seseorang masih bisa bertahan dalam kondisi yang demikian? Tetap mengelesaikan tugasnya walaupun tidak ada satupun orang yang mau mendukung, tidak ada satupun yang ma peduli ataupun sekedar bersimpati, ah…hanya menyiksa diri. Apa mereka tidak pernah merasa lelah? Apa yang sebetulnya bisa membuat mereka terus bertahan dalam kondisi sedemikian tertekan.

Hm…mungkin jawabannya mudah saja… ikhlas. Jawaban mudah dengan usaha yang tidak mudah untuk bisa mewujudkannya.

-Bintang-

Advertisements

17 thoughts on “[opini]sendirian

  1. Kalo ngerjain sesuatu rame2, namanya tugas kelompok.
    Kalo ngerjain skripsi mah, biasanya harus sendiri.
    Nah, cari ‘teman’ aja biar rame ๐Ÿ™‚

    Piss

  2. he he. iyah neh, kebetulan temen temen SMA sama temen bandit exsotis (3IPA3) ngajak bukan bareng ๐Ÿ˜€ seengaknya jadi sedikit terhibur ๐Ÿ™‚

  3. kebetulan, sy juga tadi bukber tmn2 SMA..
    syukur, ada 54 orang hadir. 54orang – 1orang (sy) = 53orang =53citarasa yg berbeda ๐Ÿ™‚

    ada yg mau nikah, ada yg udah 4 bulan hamil, ada yg udah 2 tahun anaknya, ada yg mengadopsi anak, ada 3 pasang yg ternyata ‘jodohnya’ tmn smasa SMA. ada yg pakai jilbab, ada yg jadi binaragawan, hehe.. ada yang… wah.. rame deh. sarat inspirasi & motivasi.. juga evaluasi ๐Ÿ˜ฆ

    jadi merasa ‘gak’ sendirian, meski sebenarnya masih ‘sendiri’.
    wkwk..

  4. i miss this phrase from your page:
    “Allah didn’t promise that life would be easy; but
    he did promise to be with us in every step of our life..”

    with Him (as long as we’re in His path, insya Allah) we can do anything. you can tell to your ‘big’ problem, “hey problem, no matter how big you are, i will solve it, because i have The Almighty God beside me..”

    considering this poem:
    “in Lord you keep the faith,
    do attempt to tackle the steep path,
    while you depend on The Great,
    remain firm and you shall have nothing to fear or to regret..”

    see The Quran:

    “…they two were in the cave, and he said to his companion, ‘Have no fear, for Allah is with us’…” [QS At-Taubah (9) : 40]

    “Allah is with those who keep their duty onto Him (taqwa) and those who are doers of good (muhsinin).” [QS An-Nahl (16) : 128]

  5. @imamul
    skr suka ikut pengajian dimana nih?

    Alhamdulillah, jawabannya..
    sesuai nuansa hati saat ini

    โ€œAllah didnโ€™t promise that life would be easy; but
    he did promise to be with us in every step of our life..โ€

  6. @taufikr
    iya kang,
    lagi nyari majelis2 ilmu dan pembinaan ruhiyah disini.

    mau nyari guru yang ngajarin qur’an juga,
    soalnya disini kabarnya tersebar thoriq jazariyah riwayat hafsh `an `ashim,
    dan banyak digelar pengajaran2 qiro’at.

    kata2:
    โ€œAllah didnโ€™t promise that life would be easy; but
    he did promise to be with us in every step of our life..โ€
    itu dulu tercantum di pojok kanan atas blog ini,
    sekarang udah ganti layout-nya.

  7. kan udah jadi imam masjid disana kak, kenapa bukan kaka aja yang ngadain majelisnya. he he ๐Ÿ˜›

    btw, belum sempet ngedesain header nyah lagi, jadi belum sempet ganti templet ๐Ÿ˜›

  8. ilmu itu baru membuat kita berarti kalau diamalkan, kak :).
    kalau memang nyari majelisnya susah, ya.. mungkin bakal jd salah satu alternatif solusi kalau kaka buat majelis sendiri, apalagi udah dipercaya jadi imam dimasjid sana, kna ya?:P he he

  9. Kyk kisah2 di segmen ‘profil’ majalah Hidayatullah. SubhanAlloh bgt, berjuang membuka lahan dakwah di tanah orang.

    Membuka majelis itu gak gampang. Apalagi klo masih baru di komunitas baru pula. Biasanya ada kendala ‘figuritas’ dan ‘senioritas’ sehingga masyarakat langsung resisten dulu yg akibatnya pen-tidakacuh-an terhadap apa yg kita bawakan. Ini sy alami waktu pertama kali kos di Bandung.

    Alhamdulillah disini ada temen yg juga senior mantan pengurus AAEI ITB. Lg belajar dr pengalaman2 beliau berkiprah disini.

    Yah, doakan saja. Klo belum berkesempatan membina, minimal ilmu itu kan diamalkan pada keteladanan perilaku/wawasan pribadi. Istilahnya ‘Ilmu amaliyah; Amal ilmiyah’ (ilmu yang diamalkan, dan amal yang berlandaskan ilmu). Mencari ilmu dan mengamalkan memang berjalan paralel. Jangan sampai salah satunya berhenti. Insya Allah.

  10. back to main topic,,

    kita mungkin bukanlah sswatu or sseorng yang penting di mata orang..

    tp brusahalah penting di mata ALLAH SWT..

    we’ll fell better

  11. Saya pikir karena orang tersebut memiliki OBSESI..
    OBSESI yang besar dari nilai2 yang diperjuangkan..

    Tentu saja Ikhlas adalah pangkal dr setiap aktivitas..
    Namun orang yang Ikhlas hanya bisa diindikasikan dengan tulusnya dia bekerja.. tidak tersambungkan dengan seberapa besar kerjaannya.. atau seberapa banyak aktivitas yang dia miliki..

    Jadi saya akan memilih untuk menjawab..
    Oarng itu memiliki OBSES yang BESAR.. bahkan tidak dipahami orang lain..

    dan Ikhlas.. adalah KEHARUSAN yang Insya Allah akan selalu datang pada orang-orang yang ber-OBSESI besar..

    Nice posting..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s