[kisah] harga sebuah keyakinan

7723_163859466305_838066305_2708062_3261128_n

Bismillahirahmanirahim

Ini adalah kisah sederhana dari  sebuah jilbab yang saya kenakan beberapa saat setelah saya lulus SMA. Kisah tentang sebuah perjuangan dan juga keyakinan untuk bisa menjalani hidup dengan lebih baik.  Kisah tentang sebuah keberanian untuk melakukan perubahan besar saat keyakinan itu datang.

Kisah ini dimulai saat saya mendengar seorang mualaf membacakan dua kalimah sahadat setelah menceritakan pengalamannya memasuki agama islam yang sempurna. Seketika itu tubuhku menggigil hebat. Entah kenapa rasanya dua kalimah syahadat itu begitu merasuk kedalam relung hati.  

 “Saya adalah seorang muslim tapi bukan seorang mukmin. Tau islam tapi tidak paham. Beribadah tapi tidak meresapi makna dari ibadah yang harus dijalani”. Penyesalan itu datang begitu bertubi, rasanya hati ini sakit sekali. Hingga akhirnya saya terbenam dalam sebuah sujud yang panjang, ditengah  isak tangis  dan sebuah permohonan yang dalam “ ya4w1, hamba ingin kembali…, hamba ingin mengenalMU, hamba ingin merasakan cintaMU”

change

setelah sujud panjang dan isak tangis yang dalam, saya bertekad untuk berubah. Kerudung tipis dan pendek yang bisaa saya lilitkan ke leher itu saya ganti dengan sebuah jilbab ungu yang manis. Warna yang kini menjadi warna yang paling saya sukai sebagai warna dari sebuah “transisi”. Sudah bisa ditebak bahwa saat itu kedua orangtua saya begitu terkejut dan kurang memberikan respon baik akan perubahan yang saya akukan. Kaset kaset POP yang bisaa saya dengarkan saya ganti dengan murotal Al-qur’an sepanjang hari. maklumlah, saat itu saya masih “buta” dalam membaca al-qur’an dan sama sekali tidak memahami islam. Tidak ada yang membimbing, tidak ada yang mengarahkan. Hidayah 4w1 itu datang begitu cepat dan begitu tiba tiba. Kesalahan utama yang saya lakukan adalah saya tidak menyadari bahwa untuk memahami islam kita tidak bisa melakukannya sendirian. Kita memerlukan pembimbing yang benar (sang murabi dan murabiah) dalam mengajarkan syariat dan juga sunah rasul yang mulia. Tapi…, saat itu saya benar benar merasa sendirian. “penyakit penyendiri” yang sudah saya idap sejak SMP perlahan lahan kembali menggerogoti. Sebenarnya saya mengerti bahwa kehawatiran mereka (kedua orangtua) terhadap semua perubahan yang saya lakukan dikarenakan rasa kasih sayang. Mereka hanya berkata “yakin udah siap?”.

Rupanya 4w1 hendak menguji kesungguhan hati dari hambaNYA yang baru saja ingin kembali. Tiba tiba “tentangan” orangtua makin keras terdengar saat saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan mencoba kembali SPMP. Jelas, upaya saya untuk bisa meyakinkan mereka bahwa putri sulungnyaka mampu masuk ITB tidak berhasil. Salah satu alasan saya ingin masuk ITB, selain karena sebuah impian, adalah karena saya ingin menemukan “sang murabi” yang selama ini saya cari disalahsatu masjid kampus paling terkenal. Salman. Entah kenapa 4w1 seolah menunjukan tempat itu untuk bisa saya “perjuangkan” . Lalu tekad itu kembali diuji dengan isyu isyu aliran sesat sedang hangat di Indonesia.  Sayangnya, kesalahpahaman dengan orang tua mulai timbul karena perubahan drastis yang saya alami darisegi penampilan dan juga kebisaaan. Puncak kekecewaan orangtua dari keputusan saya untuk berhenti kuliah berujung pada stigma bahwa saya telah terpengaruh aliran sesat. Kedua orangtua sayapun memanggil ustad, beberap orang kawan dan juga sanak saudara untuk “ikut menyadarkan” saya dan membuat saya kembali kejalan yang benar (mau meneruskan kuliah) . Saat itu saya berusaha meyakinkan kedua orangtua bahwa keputusan saya behenti kuliah bukan karena jilbab panjang yang kini saya kenakan atau aliran aliran sesat yang mereka khawatirkan, tapi karena saya memang sungguh sunggh ingin berubah dan saya percaya bisa melakukannya. Saya percaya, bahwa saya mampu membuat mereka bangga di Institut Terbaik Bangsa. Wajar memang, jika mereka meragukan kemampuan akademik saya yang tidak pernah mendapat ranking saat SMA dan beberapa kasus nonakademik yang harus saya alami semasa SMP.

2295705843_02bdbd92bd

Hingga akhirnya konflik itu memuncak dikarenakan kekeraskepalaan saya dan juga kekecewan orangtua, saat itu ayah berkata “ terserah kamu, toh saya masih punya satu orang anak lagi!”. Sejak saat itu ayah berhenti berbicara, jangankan untuk menyapa ,tradisi mengecup tangan ayah dan memohon doanya terhenti saat itu juga. Beliau benar benar diam dikarenakan kekecewaan yang mendalam.  Beliau memutus semua biaya financial yang saya butuhkan. Wajar memang, saat itu status saya pengangguran. Tidak kuliah tidak sekolah. Nganggur. Namun, beruntunglah 4w1 masih memberikanku sebuah anugrah yang sangat besar. Bunda. Saat itu, bundalah yang menaggung seluruh biaya yang saya perlukan. Mulai dari biaya les, ongkos, dan buku buku yang saya perlukan untuk SPMB. Itu adalah salah satu saat terberat yang harus saya alami, khususnya bagi remaja yang baru saja lulus SMA yang harus dilalui ditengah kesendirian. Namun hal itu membuat saya belajar banyak hal dan menghadiahkan banyak pandangan baru mengenai kahidupan. Khususnya sebuah azam bahwa kelak saya harus bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk orang orang yangs aya cintai, jauh lebih baik dari apa yang pernah saya alami.

responsibilities copy

Untuk membalas kebaikan bunda, hampir setiap hari saya habiskan untuk belajar di perpustakaan ITB. Pergi jam 9 pagi, pulang jam 7 malam seteleh berkutat dengan buku buku les dan SPMB. Karena saat SMA saya tidak pernah sungguh sungguh belajar, maka untuk SPMB kali ini saya harus mempelajari semua pelajaran SMA dari awal.  Mulai dari matematika dasar, fisika, kimia dan juga bahasa inggris.

Hari demi hari berlalu hingga setetah kurang lebih tujuh bulan yang dinanti, hari SPMB itupun datang. Ini adalah saat diamana  4w1 menunjukan kebesaran dan kekuasaanNYA. Saat itu 4w1 seolah membuktikan kepada semua orang bahwa jilbab yang saya kenakan bukanlah sebab saya berhenti kuliah,bukan penyebab saya mengikuti aliran sesat atau sejenisnya. Tapi impian, kerja keras dan juga kepercayaan untuk bisa menggapai kehidupan yang lebih baik adalah alasan utama saya melakukan banyak perubahan dalam hidup. Berubahan dengan awal sebuah azam “ ya 4w1 hamba ingin kembali mengenalMU”. Tepat ketika diumumkannya hasil SPMB, itu adalah saat pertama ayah menyapa sambil mengecup kening saya dan berkata “ selamat anaku”.

 Sungguh.. kasih sayang orangtua tidak akan pernah habis oleh amarah.  


 kisah ini saya tuturkan untuk sebuah motivasi, untuk sebuah hikmah dan isnpirasi,  untuk sahabat sahabatku  yang hingga kini berkata pada jilbab “ hm.. gimana yah saya belum siap”. Kawan, Jangan sampai kita merasa belum siap namun tidak melakukan usaha untuk menjadi siap. Dan jangan merasa “kaget” kalau 4w1 menguji kesungguhan yang kita miliki, karena justru dengan ujian, banyak hikmah dan juga hidayah yang mampu kita tangkap…

-Bintang-

NB: kisah setelah saya berjilbab (tapi sebenernya masih miskin ilmu) dan bagaimana saya melalui hari hari diITB dengan penuh suka duka yang sarat hikmah, insya4w1 saya ceritakan dilain waktu yah.. semoga 4w1 masih memberikan kesempatan. Semangaaaat….

Advertisements

43 thoughts on “[kisah] harga sebuah keyakinan

  1. ” Subhanalloh.. ”

    no other words for ukhti Anna,
    Alhamdulillah wa syukur..
    hanya sebuah doa yg mampu sy ucapkan,

    “..smg Ukhti selalu dirahmati lalu dikuatkan dlm berjuang di jalanNya, menjadi org yg beruntung yg slalu mencintai dan sangat dicintaiNya..amin.”

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh..
    – Hidayatullah Hasan –

  2. ” Subhanalloh.. ”

    no other words for ukhti Anna,
    Alhamdulillah wa syukur..
    hanya sebuah doa yg mampu sy ucapkan,

    “..smg Ukhti selalu dirahmati lalu dikuatkan dlm berjuang di jalanNya, menjadi org yg beruntung yg slalu mencintai dan sangat dicintaiNya..amin.”

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh..

    – Hidayatullah Hasan –

  3. “Kalau tidak karena sekolah, Tak pandai aku menulis puisi. Kalau bukan karena ukhuwah, Tak semangat aku bersilaturrahmi.”

    Semoga hidup ini menjadi indah untuk dilalui dan bermakna untuk diceritakan.

    Terus jadi inspirasi!

    -Mampir ke blog sy ya 🙂

  4. Subhanallah ya Anna ya…
    Aku ga pernah tau ada kisah ini dibalik wajah ceriamu yg selalu ngusilin aku tiap ketemu…heuheueuheu

  5. Terharu,subhanalloh..Allah,ArrohmanArrohiim,menyayangi hamba2nya..memanggil untk kembali padaNya, Ashshirotolmustaqim,bc jg surah alinsan..

  6. Jalan para pemenang itu selalu jalan yang mendaki dan sulit. Dan hanya orang yang berani bermimpi, yang dapat menyulap mimpi itu menjadi kenyataan
    .
    Semoga semangat kamu itu selalu ada saat memberikan hadiah kelulusan bagi orang tua kamu dan tidak pernah padam sepanjang usiamu. :).

  7. @Sutan Rajo di Langik
    “Sutan Rajo di Langik” haah? siapa tuch?? gak kenal. wekekek >:) ampun Om :P.
    wiih…”isah ini dibalik wajah ceriamu” kirain kisah dibalik wajah cantikmu :))

  8. @ yumcutz. he he
    eh.. ada yumcutz, looooooong time 2 see 😛 (lebay)
    he he.. iyah ndre. tetep semangat nyelesaiin TA yang kelewat menantang ini. he he.
    mohon doanyah yang kk Andre

  9. Memang keras kepala.. 😀
    tapi, keras kepala yang baik, insyaALLAH..
    Anna harus berterima kasih juga, sama Ayah.. Coz, kalau ayah ga kesel ma Anna, bisa jadi motivasi ana belajar untuk masuk ITB ga sekeras itu..

    Itulah kenapa pohon gunung lebih kuat kayunya dibanding pohon lembah.. Dan pohon gunung harus bertima kasih juga pada angin dan tekanan udara di gunung.. 🙂

    Ayah adalah salah satu langitmu, bintang.. 🙂

  10. subhanallah sis…., cerita kita hampir mirip (sama – sama ditentang ortu ketika memutuskan memakai jilbab yang lebih panjang),…
    Tetep smangat!!! ^^

  11. SubhanAlloh,
    Baca kisah ini, saya terharu..

    Spontan jadi teringat dua ayat:

    “Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya,” [QS Asy-Syams (91) : 7]

    “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya..” [QS Ibrahim (14) : 34]

    Bagaimana cara Rabb mengabulkan permohonan seseorang. Bagaimana cara Rabb untuk menyempurnakan jiwa seseorang itu. Hikmah ini dapat ditarik dari kisah yang diceritakan.

    Seperti manusia yang memohon rizqi. Tentu saja Allah akan memberikannya sesuai apa yang telah ditetapkan. Tapi apakah rizqi itu akan langsung jatuh dari langit? Atau tiba-tiba tumbuh dari tanah? Mudah bagi Allah (Yang Maha Kuasa) untuk memberi dengan cara seperti itu. Namun yang demikian hanya akan membuat jiwa manusia tersebut menjadi kerdil. Oleh karena itu, Allah menyediakan jalan-jalan memperoleh rizqi. Yang dengan usaha menelusurinya, manusia akan mengalami perjuangan. Perjuangan yang melatih jiwa, yang membesarkan jiwa.

    Dari sebuah permohonan, “hamba ingin kembali”, Allah akan menyadarkannya. Bahwa untuk ‘kembali’ haruslah dengan cara melaksanakan syari`at-Nya sesuai sunnah Nabi-Nya dengan sebenar-benarnya. Dalam pada itu dituntut keberanian untuk merealisasikan keyakinannya terhadap ajaran Islam dengan baik dan sempurna.

    Dari sebuah permohonan “hamba ingin mengenal-MU”, Dia akan mengujinya. Sebagaimana halnya jika seorang meminta agar dijadikan orang yang sabar, maka Allah akan mendatangkan cobaan-cobaan untuk melatih kesabarannya. Kali ini pun Dia melibatkannya dalam pengalaman-pengalaman yang membuatnya menyadari kehadiran dan kebesaran-Nya.

    Dari sebuah permohonan “hamba ingin merasakan cinta-Mu”, Allah akan membimbingnya. Allah akan memperkenalkannya kepada para kekasih-Nya. Mempertemukan dan menempatkannya di tengah-tengah orang-orang yang Ia cintai dan merekapun mencintai-Nya.

    Itulah hidayah yang amat mahal harganya.

    Dan manusia memiliki derajat kebebasan untuk memilih. Hidayatud-dilalah sudah dipaparkan. Jalan ketaqwaan sudah ditunjukkan. Akankah dia menempuhnya? Ayat yang disebut di awal masih memiliki lanjutan:

    “Maka Allah mengilhamkan kepada (jiwa) itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” [QS Asy-Syams (91) : 8]

    ..Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). [QS Ibrahim (14) : 34]

    Apakah dia memilih teguh menjalankan syari`at, ataukah berbalik lalu mundur.
    Apakah dia memilih tegar menghadapi tantangan, ataukah gentar lalu menyerah.
    Apakah dia memilih berpartner dengan para kekasih Rabb-nya di dalam ekosistem yang robbani, ataukah lari dan lebih memilih orang/komunitas lain yang malah menjauhkan dari Rabb-nya serta berorientasi duniawi.

    Golongan pertama adalah kelompok yang memilih menapak di jalan ketaqwaan sebagai bentuk syukur terhadap nikmat hidayah yang Allah berikan. Sedangkan golongan kedua adalah kelompok yang memilih menapak di jalan kefasikan sebagai bentuk kufur terhadap nikmat hidayah dari Allah.

    Telah maklum bahwa:

    “..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” [QS Ibrahim (14) : 7]

    Bagi mereka yang ingkar (yakni dengan memilih menyerah dalam kefasikan) akan ditimpa adzab. Sadarilah bahwa bencana terbesar bagi hamba adalah saat menjadi sesat dan jauh dari jalan Tuhannya, serta dikendalikan oleh syetan. (Na`udzubillah).

    “..Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (membiarkan mereka sesat dan bertambah jauh dari kebenaran); dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” [QS Ash-Shaff (61) : 5]

    Adapun bagi mereka yang bersyukur (yakni dengan memilih berjuang dalam ketaqwaan) akan diberikan tambahan nikmat terbesar, yaitu hidayatut-taufiq. Ia berupa peneguhan kebenaran dan cahaya dalam hati, pertolongan dan penjagaan dari penyimpangan, serta kecintaan iman.

    “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” [QS Muhammad (47) : 17]

    Itulah manisnya hidayah.

    Episode berjilbab adalah titik yang dilalui oleh para akhwat, tidak pernah dilintasi oleh garis kehidupan para ikhwan. Selalu menyisakan hikmah dan kesan mendalam yang mungkin hanya bisa dipahami oleh yang bersangkutan. Nyaris tiap individu memiliki kisah yang berbeda satu dengan yang lain. Tak terkecuali, baik itu bagi yang tadinya sama sekali belum berjilbab kemudian menjadi berjilbab, atau bagi yang tadinya ‘setengah berjilbab’ kemudian menjadi berjilbab, pun bagi yang tadinya sudah berjilbab namun kemudian menemukan arti sesungguhnya dari berjilbab.

    Salah satu bentuk syukur atas nikmat hidayah pengamalan berjilbab adalah dengan mendakwahkannya. Kepada mereka yang mengaku belum siap, kita bisa membantunya agar menjadi siap. Bukan karena merasa lebih shaleh, lebih berilmu, banyak amal, atau lebih suci. Bukan itu. Tapi esensi dakwah ini (yang kadang dilupakan) adalah karena cinta dan kasih sayang.

    Oleh sebab kecintaan kita pada saudara kita, maka kita sangat ingin manisnya hidayah yang kita rasakan juga dapat dirasakan oleh saudara kita. Oleh karena kasih sayang kita pada teman kita, maka kita sangat berharap ia mendapat kebaikan dalam Islam. Dan tidak sebatas ingin dan harap, tapi kita juga berupaya untuk menyediakan berbagai sarana yang dapat memberi kebahagiaan dunia dan akhirat kepada mereka.

    Sebagai contoh konkret misalnya memberi hadiah kerudung, atau buku (salah satu yang saya tau, ada judul buku ‘Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab?’), dan lain sebagainya. (Kayaknya akhwat yang lebih mengerti tentang sesama akhwat).

    Seperti cerita-cerita lain yang serupa (pengalaman akhwat-akhwat memulai jilbabnya), semoga tulisan dari sangbintang ini juga bisa menginspirasi. Mudah-mudahan, dengan keikhlasan dan kebaikan maksud penulisnya, artikel ini bisa bermanfaat membuka hati semua yang membacanya.

    Dan Allah pemberi taufiq ke jalan yang lurus.

    nb:

    Sepertinya ‘penyendiri’ tidak selalu jadi ‘penyakit’,
    Hidup itu kadang seperti memetik gitar,
    Satu waktu kita butuh untuk ‘memainkannya’ sendirian,
    Untuk mendengar suara yang menginspirasi dari dawai-dawainya..
    (berhubung saya dulu suka main gitar 😛 )

    Momen seperti i`tikaf atau muhasabah juga sendirian,
    Biasanya saat itu juga membuat sadar:
    ketika tidak ada yang menyertai, masih ada Allah beserta kita.
    ketika tidak ada yang dapat diminta tolong, masih ada Allah yang akan menolong.
    ketika makhluq di sekitar membuat kita kecewa, masih ada Allah yang tidak akan mengecewakan kita.

  12. O_o.

    he he, makasih banyak feedbacnyah kak 🙂 sampai di tanggapi dengan artikel pulak. he he
    kalau cerita sayah ini mungin masih belum seberapa dibandingkan dengan cerita akhwat2 yang lainnya, lagipula kadang saya masih suka lebih banyak “ngaco” nyah. he he he :))

  13. hmm, rasa dejavu, pernah dikasih icon “O_o” dimana gitu. lucu juga icon-nya. boleh sy pake ya..

    itu (tulisan sy) bukan artikel, tapi komentar. kalo artikel mah sy tulis di blog pribadi..

    kan sy bilang, pengalaman berjilbab itu tiap orang beda. dan kunci kemeng-inspirasi-an (ejaannya ngaco) sebuah cerita/tulisan bukan terletak pada panjang atau ‘seru’nya. tapi pada keikhlasan dan kebaikan maksud penulisnya..

  14. Assalamu’alaykum…
    artikel anti yang update mana? lagi vakum.. oy,, saya juga anak kimia dari Uncen. bagi2 inspirasi judul pen-lab donk.. tolong ya..
    wassalam..

  15. @ade
    waalaykumsalam.
    hi hi. maaf bukannya lagi of.. tapi belum sempat dengan tugas kuliah dan TA yang lumayan banyak. kalau judul penelitian sayah ada satu penelitian yang pernah diceritakan sama profesor pembimbing saya, beliau bilang, di pertamina ( lupa daerah mana) itu ada tumpukan zeolit katalis sisa cracking yang “jadi limbah” dan numpuk dipertamina sanah. ternyata “limbah ” zeolit tersebut dibeli (atau mungkin dikasih langsung) ke pemerintahan korea, yah mungkin ittung itung untung juga ada yang mau nampung limbahnya. tapi pembimbing saya “curiga”. kemungkinan besar zeolit itu ziaktifkan kembali sisi katalitiknya, tapi teknologi untuk mengaktifkan kembali zeolit tersebut gak kita tau, jadilah zeolit zeolit tersebut sebagai ‘sampah” ( limbah). yah mungkin ituh salah satu topik penelitian yang bagus buat dikembangkan 😀

  16. zeolit… klo di papua setau saya hanya ada di nabire. kebetulan waktu itu ada kaka tingkat yang ambil judul sedikit nyerempet zeolit. tapi emang beda y, klo anak ITB yang kasih judul. KETINGGIAN,.. KEJAUHAN,.. takutnya g sampe2..
    klo judul yang simpel trus g terlalu kuras biaya, ap y??

  17. Pingback: [hobi] metamorfosis « read in the name of your Lord who created

  18. assalaamu’alaykum anna,

    sungguh indah kisahnya, saya jadi termotivasi lagi,jadi semangat lagi.

    ternyata benar, kunci keberhasilan itu adalah sungguh

    subhanallaah 🙂

    salam ukhuwah dariku

  19. Subhanallah, kisah hidup yg menginspirasi. Smoga banyak perempuan-perempuan yg belum berjilbab atau yg masih setengah berjilbab, tercerahkan melalui tulisan ini.

  20. Alhamdulillah….
    Sebuah keyakinan yang awalnya berlumur kepahitan, namun…..berujung keindahan, sungguh Allah subhanahu wa Ta’ala Sang Maha Pengasih dan Penyayang selalu sayang pada kita ya Teh Anna…. , 🙂

    Salam,

  21. ijin copas quote yg akhirny ya,,
    subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah,,Allahuakbar

  22. Subhanallah..

    merinding ih tetehh
    *kesindir juga

    duh jadi anna wanna be nich
    :-p

    mohon bimbingannya ya tetehhh

  23. Halo,

    Salam kenal. Kami suka dengan tema tulisan kamu tentang pengalaman kamu di ITB.

    Begini, LPM ITB sedang membuat situs antarmuka untuk menjembatani mahasiswa- alumni ITB, dengan siswa SMU dari seluruh Indonesia, yang berminat ke ITB, untuk bisa bertukar informasi. Tujuannya, adalah untuk mengurangi kasus “salah pilih jurusan” sebelum memutuskan masuk ke ITB, juga membuat siswa SMU mengenal lebih dekat kehidupan mahasiswa ITB, dengan harapan, mereka bisa mengoptimalkan waktu belajarnya di kampus.

    Kami berusaha untuk mengurangi bias informasi seputar jurusan di ITB, bagi siswa SMU, sehingga mereka punya spektrum yang luas dan berimbang seputar disiplin jurusan, bahkan aktivitas mahasiswa ITB.

    Kalau Kamu bersedia, silakan berkunjung, berdiskusi, berbagi, dan jangan lupa untuk menjawab keingintahuan siswa- siswa SMU dari seluruh Indonesia, tentang ITB.

    Oh iya, tulisan ini juga bisa lho, kalau mau diposting .

    Regards,

    Layanan Produksi Multimedia ITB
    http://www.masukitb.com
    http://multimedia.itb.ac.id

  24. dear LPM dibawah USDI-ITB kan ya?
    kebetulan dulu saya juga ada di salah satu organisasi binaan USDI ITB yang juga bergerak di bidang media.
    karena kesibukan dan lain hal. maka sebetulnya banyak sekali kisah tentang ITB yang ingin saya share namun belum terfasilitasi. apakah untuk http://www.masukitb.com ada forum atau komunitas tertentunya?
    terimakasih

  25. Sungguh menyentuh dan sarat makna tersirat dari perjuangan jalan sang bintang agar tidak terjatuh dan terus bercahaya indah di langit..
    Terus lah bercahaya sebagai penerang insan2 generasi kelak..^^

    Ma’at Taufiq ya annesa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s