[Puisi]Mati rasa

Mati rasa

Saat taring birokrasi menancap dalam tanah tanah mahasiswa

SK dan SKS jadi senjata orang berkuasa

Berdesing, membedil tanpa jejak dan suara
Kaki kaki dipasung dalam meja ukuran dua kali tiga

otak terperangkap dalam kejaran cambuk bertahtakan toga

Kritis, Tak lagi berbuah manis

Idealis, Jadi apatis

Romongan rombongan turun ke jalan kian terkikis

Malas berkomentar, hanya tidur dalam mimpi mimpi manis

Kecuali jurang dan sekat sekat bergaris

Tak lagi punya tempat pada masyarakat yang menagis

Meninggalkan corak dunia lama

Dimana pekikan kata “berontak” masih membara

Dimana seruan “bergerak” masih jadi pekikan yang menggema

Dimana barikade membenteng bersama rakyat yang teraniaya

Kini,

Dunia lama tak lagi ada

Perlahan mati karena berhenti merasa

Mati rasa

Andriana P.

Bandung, 10 Februari 2009

Puisi ini saya buat untuk tugas matakuliah apresiasi dan penciptaan sastra. Salah satu matakuliah pilihan untuk menggenapi SKS-SKS terakhir saya di ITB. Bisa dibilang, kuliah tersebut adalahsalah satu kuliah yang istimewa bagi saya. Buka karena penat dengan rutinitas kuliah di kimia, namun lebih kepada cara penyampaian dan apa yang dipelajari disana. Kami sering berdiskusi. Membuat lingkaran lingkaran kecil dari barisan kursi. Satu persatu dari kami mulai berkspresi dan tanpa ragu mengeluarkan pendapat yang dimiliki. Tidak ada kata salah, karena sastra dan seni dapat diartikan dengan sangat luas. Hal itulah yang membuat diri kita bebas.

-Bintang-

Advertisements

4 thoughts on “[Puisi]Mati rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s