[info] kecerobohan menangani zat kimia

Mau berbagi aja nih, di semester 6 saya mengambil manajemen labolatrium yang ternyata materinya menarik banget untuk diketahui. 2 september 2009 yang lalu. dosen saya (Prof.Dr.Djulia Ongo) banyak mencertakan kisah nyata mengenai kecerobohan menangani bahan kimia, baik yang terjadi di dalam ITB ataupun di luar ITB. Semoga aja bisa bermanfaat buat temen temen yang baca.

  • Jangan mengambil bahan kimia yang tidak diketahui penangannnya

bongkahan natrium yang dimasukan kedalam air. Gambar diambil dari : http://www2.uni-siegen.de/~pci/versuche/v44-1-1.html

Ini adalah kisah para asisten lab, bisa dibilang pada jaman dahulu kala (entah jaman kapan, beliau tidak menceritakan secara detail) lab kimia menjadi derah kekuasaan asisten. Zat kimia bisa diambil secara bebas tanpa pengawasan yang ketat. Bisaanya dosen dan asisten asisten senior menggunakan bahan bahan kimia tersebut untuk melakukan demo bagi praktikan.  Salah satu demo yang sering diperagakan adalah memasukan sejumlah kecil logam natrium  kedalam air. sejumlah 0.1 gr saja letupannya bisa cukup keras apalagi digunakan lebih dari itu. Pada suatu hari, salah seorang asisten yang “kreatif” ingin mendemokannya kembali di rumah (mungkin). Entah untuk persediaan atau memang hobi mengkoleksi, logam natrium yang di”ambilnya” cukup banyak, kirakira sebesar satu ruas jari. Logam tersebut dimasukannya kedalam saku dan dalam perjalannan pulang, diluar perkiraannya cuaca kian memburuk dan hujan deraspun turun. Selanjutnya sudah bisa ditebak sendiri.

Terkait dengan penanganan logam ini dan beberapa zat kimia lainnya, semenjak gedung kimia ITB terbakar, maka ITB membagun gudang bahan kimia lain yang jauh dari lab kimia. Gudang ini disimpan dalam ruang bawah tanah di salah satu tempat di ITB. Didalamnya terdapat bongkahan logam natrium dalam kemasan botol botol besar dan juga bahan bahan kimia lainnya. Maka tidak heran jika gudang ini memerlukan investasi minimal sebesar 1 miliar rupiah hanya untuk memastikan bahan bahan ini “aman”.

 

  • Jangan asal simpan jangan asal sedot

Kisah ini terjadi di Lab kimia dasar tepat pada tahun 2008. Pada tahun ini kimia ITB menetapkan penggunaan google (pelindung mata) bagi setiap praktikannya. Google ini terdiri dari berbagai tipe, ada yang terbuat dari plastik tipis mirip kacamata pilot jaman dahulu, ada juga yang terbuat dari plastik yang lebih kuat. Alkisah, saat menulis laporan, biasanya google ini dilepas. Salah seorang praktikan tidak menyadari bahwa dia meletakan google tersebut diatas meja yang tidak sengaja terdapat tumpahan asam saat melakukan percobaan. Kemungkinan besar, sisa asam tersebut tidak dibersihkan dengan baik sehingga saat google tersebut digunakan, kulit wajahnya melepuh (teriritasi). Permasalahannya adalah, asam HCL yang digunakan meski tidak dalam julah mol yang besar tetap akan mengakibatkan iritasi dan warna asam inipun sangat mirip dengan air. Terlebih dalam jumlah mol besar akan sangat cepat membuat kulit melepuh dan luka.

kiri: pipet seukuran, kanan : filler

Masih seputar HCL, dikimia sendiri terdapat beberapa pipet untuk memindahkan zat kimia. Salah satu pipet dengan presisi tinggi yang biasa digunakan untuk keperluan analitik adalah pipiet gondok atau pipet seukuran. Cara menggunakannya adalah dengan memakai filler (penyedot) yang akan mengisap udara dan menaikan zat kimia masuk kedalam pipet. Saat itu, salah seorang analis menggunakan mulutnya (seharusnya menggunakan filler) untuk mengisap udara dan memasukan HCL kedalam pipet. HCL dengan konsentrasi 5M tersebutpun tertelan sehingga beliau harus dilarikan ke boromeus. Di lab sendiri HCL pekat (6M) harus disimpan didalam lemari asam karena mengeluarkan asap tebal mirip es karbit.

 

  • Factor factor X

Kisah ini banyak memakai istilah kimia sehingga ceritanya menjadi agak panjang. Kisah ini adalah kisah teman Prof. Djulia di kimia ITB.  Jika beberapa senyawa tercampur maka salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memisahkan senyawa yang kita inginkan adalah dengan melakukan ekstraksi. (menambahkan zat pengekstrak dan mengocoknya dalam corong pisah). Dalam corong ini akan terentuk dua fasa, senyawa yang ingin kita ekstarak bisa berada dilapisan bawah atau lapisan atasnya dan dikeluarkan lewat keran tertentu. Saat melakukan ekstraksi, praktikan sudah menggunakan jas lab lengan panjang sesuai standart prosedur di lab. Sayangnya keran corong pisah yang digunakan untuk ekstraksi tadi bocor sehingga isi nya merembes kedalam jas lab saat pratikan membuka keran corong pisah. Isi zat tersebut adalah Brom cair yang sangat korosif. Kulit lengannya melepuh dengan parah sehinga mirip tisu basah yang jika tersentuh sedikit saja bisa sobek.  Sampai sekarangpun luka bakarnya tida bisa hilang.

Karena “paranoid” dengan cerita tersebut,  salah seorang kaka kelas saya dikimia malah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Saat praktikum, tanpa sengaja beliau terkena anti-brom, karena panik beliau segera bertanya kepada teman sebelahnya yang kebetulan memiliki prestasi akademik sangat baik, diapun memberikan saran untuk menambahkan brom dibagian yang terkena anti-brom tadi. “yaaah.. tambahin brom ajah biar netral”.Sesaat setelah brom tersebut ditambahkan pada kulitnya maka teman yang memberi saran tadi berkata “ loh kok ditambahin, tadi kan saya cuman bercanda. Anti-brom kan gak bahaya”.

Bercanda dalam kondisi demikian bisa sangat berbahanya. Bisa dilihat, bercanda namun tanpa sadar sambil berbohong bisa membahayakan orang lain. Terlebih jika seseorang sangat mudah percaya.  Mungkin ada baiknya kita mereduksi bercanda bercanda yang “nyerempet2” bohong seperti tadi.

 

  • Ceroboh karena tidak mencantumkan label

Ibu Djulia sangat menekankan penggunaan label jika memindahkan zat zat kimia kedalam wadah selain wadah asli yang diberika oleh pabrik. Di Kompas, pernah diberitakan seorang anak meninggal karena meminum tiner yang digunakan ayahnya untuk mengecat. Tiner tersebut dikira air putih karena dikemas dalam kemasan air mineral tanpa melepas label komersialnya.

Hal yang perlu diperhatian adalah, resiko kecelakaan oleh zat zat kimia berbeda dengan pengakit yang mempunyai obat tertentu untuk mengatasinya. Kebanyakan kecelakaan oleh zat kimia tidak memiliki obat khusus untuk mengobatinya. Cara terbaik adalah dengan mengutamakan safety sehingga resiko kecelakaan bisa dicegah dan dikurangi.

Sekian, moga bermanfaat untuk teman teman semua.

 

Salam hangat,

Bintang.

Advertisements

4 thoughts on “[info] kecerobohan menangani zat kimia

  1. Terimakasih infornya.
    berbagi pengalaman,(boleh ya), dulu senang percobaan kimia, saya beli NaOH padat di kresek, mau direaksikan dgn logam untuk menghasilkan H2. logam yg digunakan saat itu Al (bersifat amfoter), (memakai uang logam).Berhasil..
    tp selanjutnya tanpa disadari NaOH jd basah, terasa panas, sy sadar, NaOH padat bersifat higroskopis, menyerap air, dan menghasilkan panas, duh kena kulit lsg deh pakai air banyak2..
    2. Senang dgn Kalium Permanganat (K2CrO4), oksidator kuat, dulu selain digunakan untuk reaksi perubahan warna, jg untuk percobaan ledakan, bersama dgn Arang aktif dan Kalium Nitrat(KNO3)
    3.menekstraksi perak dalam baterai kecil, baterai kecil menganduk Ag+. sy buka dan dilarutkan dalam Asam Sulfat Encer. trus direduksi dgn Seng (Zn) jd menempel di gelas deh, cantik..
    4.ekstrak timah(Sn) dari “wadah pepelendungan”, sy tau timah titik didihnya rendah, dibakar lsg cair dan logam bs dipisahkan, trus bs dicetak lg pake katel, unik. pernah juga ekstrak seng dari baterai kering..(hmm..dulu ga mikirin resiko beracun). yah menggunakan barang2 yg ada..
    hmm…bnyk lg sih uji coba, hanya skr sudah ditinggalkan..

    mengenai natrium, mmg itu kl bereaski dgn air sangat eksplosif..NaOH dan H2, bs meledak jg..
    hati2 dgn logam gol IA sangat reaktif, dan jg golongan VIIA, sangat kofosif, jg dgn asam kuat dan basa kuat. lucu jg td kisah brom, tentu yg bahasa bromnya bkn bromnya..
    hati2..
    setuju banget ttg label, sampai skr kl ada yg ga jelas, apapun perlu dilabelin..
    sgitu dulu..

    mkasih sharingnya…
    wassalam

  2. iya, harus hati hati banget. kebanyakan memang tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dicegah saja. O.o. ngeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s