[Kisah] Sebuah keputusan besar –part1 : The background

my dad when he was in Adelaide

Bisa bersekolah ke luar negeri merupakan salah satu impian yang banyak dimiliki oleh setiap orang. Namun bagaimana cara dan ikhtiar untuk bisa mewujudkannya adalah hal yang membuat setiap orang menjalaninya dengan berbeda. Selain mendapatkan kesempatan untuk mempelajari kebudayaan, kultur, ilmu, dan wawasan baru di negeri orang, kesempatan ini juga memungkinkan kita untuk bisa berjalan jalan dan melihat sisi yang lain dari negara yang kita kunjungi. Selain itu, hal yang mungkin mempengaruhi ketertarikan untuk bisa bersekolah ke luar negeri dan banyak di frame-kan oleh masyarakat adalah gengsi. Tidak bisa dipungkiri memang, bahwa kualitas pendidikan yang disediakan di luar negeri lebih terakui dimata internasional. Meski demikian, hal ini tidak berarti bahwa Indonesia tidak memiliki pendidik yang berkualitas. Hanya saja, banyak sekali faktor yang mempengaruhi ketersediaan kualitas pendidikan dari suatu negara. Termasuk negeri ini.

album tua yang pada akhirnya menginspirasi saya untuk study abroad

Sebelumnya saya tidak pernah terfikir untuk bisa bersekolah keluar negeri ataupun melanjutkan pendidikan saya ke jenjang master ataupun ke kenjang yang lebih tinggi. Melihat nilai akademik saya yang biasa saja, dan juga kondisi keluarga yang sangat sederhana,  saya tidak pernah terfikir untuk bisa mencari scholarship. Hingga saya kembali menemukan sebuah foto tua di kamar kerja ayah. Foto ayah ketika bersekolah di Adelaide, Australia. Saya mengetahui foto itu sejak lama, namun tidak pernah merasakan bahwa foto-foto itu yang kelak akan menginspirasi saya untuk bisa bersekolah ke luar negeri. Hal yang tidak pernah saya renungkan saat itu adalah, tanpa bermaksud merendahkan, bahwa ayah yang saat itu berasal dari keluarga yang sangat kurang mampu namun bisa bersekolah ke luar negeri.

buku tua milik ayah yang juga membantu saya mempelajari bahasa inggris secara mandiri

Jika direnungkan, hal tersebut bukanlah hal yang mudah untuk didapatkan pada masanya. Ayah yang saat itu merupakan putra dari keluarga penjahit yang memmiliki banyak sekali anak (6 bersaudara). Untuk bersekolah pun, beliau harus menempun jarak puluhan km dengan berjalan kaki ataupun dengan bersepeda. Mengenakan baju ataupun seragam kusam dan sepatu tua. Beliau tidak pernah belajar bahasa inggris dari tempat les, semua dilakukannya dengan mempelajarinya sendiri dari buku dan lewat mendengarkan radio. Buku-buku tua peninggalan beliaulah yang pada akhirnya juga membentu saya untuk mempelajari bahasa inggris dengan mandiri. Namun dengan semua keterbatasan yang ada,  beliau bisa mendapatkan scholarship dan mengubah kehidupan kami menjadi seperti sekarang. Mama bercerita bahwa beliau berangkat ke Australia ketika saya masih sangat kecil sehingga tidak memungkinkan untuk kami bisa ikut ke sana. Saya rasa ketidak tersediaan dana yang cukup juga menjadi kendala.

adelaide city 1989

Meskipun demikian, keberhasilan ayah kala itu menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama, study abroad di Adelaide, Australia. Keinginan tersebut bersamaan ketika saya mulai merasakan bahwa belajar adalah sebeuh proses yang menyenangkan. Sayapun mulai mengumpulkan banyak informasi tentang bersekolah di Australia dengan mendatangi expo pendidikan di Australia. Satu hal yang saya sadari saat itu adalah kemampuan bahasa inggris saya sangat kacau. Saya hampir tidak bisa berkomunikasi dengan native yang ada disana, pernasalahan yang lain mendasar saat itu adalah kepercayaan diri. Meskipun kita memiliki impian yang besar, impian itu haruslah diwujudkan dengan usaha dan juga kemampuan yang kita miliki. Saya bahkan tidak memahami tenses dasar seperti simple present, past, ataupun future pada saat itu. Saya juga tidak mengetahui bahwa ada kata ‘did’,’was’ were’ dalam bahasa inggris seperti yang telah saya ceritakan di beberapa posting sebelumnya. Yap! You can say I kenew nothing bout English. Sejak saat itu saya mulai membenahi diri dengan belajar bahasa inggris secara mandiri, sebelum mengikuti les. Saya banyak menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mempelajari buku buku yang dulu digunakan oleh ayah. Hal yang saya sadari adalah, sebanyak apapun kita mengikuti courses, jika tidak dibarengi dengan mempelajarinya secara mandiri maka progress yang didapat tidak akan signifikan. Seperti yang guru saya selalu bilang, learning is a process.

Proses belajar itupun terus berlanjut hingga suatu hari saya memberanikan diri untuk datanng ke IDP dan mendatangi kuliah-kuliah umum internasional di ITB. Ini adalah langkah awal ketika saya mulai meniti impian saya untuk bisa bersekolah ke luar negeri

1. Menjalin komunikasi dengan universitas di Australia

with E.Kelly from QUT

Setelah mendapatkan kontak dari IDP dan juga pameran pendidikan Australia. Saya mencoba menghubungi beberapa representative dari beberapa universitas di Australia. Beberapa dari mereka sangat ramah. Kami bahkan berjanji untuk bisa bertemu kembali suatu saat di Australia. Sayangnya kesempatan ini tidak saya kejar dengan sungguh sungguh. Saat itu saya belum tau dengan pasti research yang akan saya lakukan dan juga keterbatasan bahasa yang saya miliki membuat saya kurang percaya diri. Sayapun belum memiliki pengalaman dalam membuat research proposal ataupun mengetahui banyak informasi mengenai persiapan yang harus saya lakukan untuk bersekolah ke luar negeri. TOEFL saya saat itupun masih di bawah 500.

Mungkin itu adalah salah satu hal yang saya sesali saat ini. Meski demilian, saya menyadari bahwa belajar adalah sebuah proses yang panjang. Kita tidak bisa mengharapkan hasil yang luarbiasa hanya dalam waktu yang instan. Percayalah kawan, jika kita berhasil melewati itu semua, maka hal tersebut akan jauh lebih berkesan dan membanggakan dibandingkan proses yang instan. Seseorang yang luar biasa bukan hanya mereka yang mampu meraih apa yang mereka cita-citakan, namun mereka yang yang mampu mengubah kegagalan dan keterbatasan menjadi sebuah keberhasilan.  Bisa jadi perjuangan yang kita lakukan memberikan manfaat jika kita mampu mneginspirasi dan membagikannya kepada orang lain.

Belajar menerima kondisi saya saat itu yang memang baru mulai sungguh sungguh belajar bahasa inggris dan juga menyadari bahwa belajar adalah proses yang menyenangkan, merupakan salah satu hal yang bisa menghibur saya. Hal yang saya syukuri adalah, jika saya tidak melewati itu semua, saya mungkin tidak akan bsia menjadi seperti sekarang. Alhamdulilah…

Kisah bagaimana saya bertemu professor dari Jepang dan bagaimana saya menjalani komunikasi dengan salah satu universitas di Jepang akan saya ceritakan di posting selanjutnya. Semoga posting ini bermanfaat bagi siapaun yang membacanya. Amin.

Salam hangat,

Sangbintang

Advertisements

One thought on “[Kisah] Sebuah keputusan besar –part1 : The background

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s