[curhat] Sebuah keputusan besar –part 3: Beasiswa Mombukagakusho (MEXT) research student

5.       Beasiswa Mombukagakusho (MEXT); research student.

Dikarenakan Jepang merupakan salah satu negara yang menjadi target favorit oleh para pencari beasiswa, mendapatkan Scholarship ke negara ini bukanlah hal yang mudah. Proses mendapatkan beasiswa ini dilalui dengan tahapan yang lumayan panjang.  Beasiswa yang saya ikuti untuk bisa bersekolah ke negara ini adalah beasiswa MEXT (Mombukagakusho ) yang diberikan antar pemerintah untuk kategori research student. Dalam program ini, kita tidak hanya bersaing antar sesama pelamar S2 namun juga bersaing dengan pelamar S3 secara nasional dan internasional. Beasiswa kategori research student ini terdiri dari 2 jenis, yaitu U to U (university to university) dan G to G (government to government). Saya sendiri mengambil jalur G to G atas dasar saran yang diberikan oleh kedua professor saya di Jepang.  berikut adalah tahapan proses seleksi G to G yang saya jalani

Tahap 1 Seleksi dokumen

Menurut saya, tahap ini adalah tahap yang paling kritis. Pada proses seleksi tahun 2011 yang saya ikuti, saya mendapatkan informasi bahwa jumlah pendaftar untuk seleksi berkas ini mencapai sekitar 500 orang. Sementara peserta yang berhasil masuk seleksi tahap 2 hanya 70 orang saja (sekitar 14 %) untuk peserta S2 dan S3. Syarat bahasa, kesiapan dan juga rencana studi menjadi hal yang sangat menentukan disini. Score  TOEFL yang diminta saat itu adalah 550 (minimal) namun akan lebih baik jika kita telah memiliki basic bahasa Jepang sebelum apply untuk scholarship ini. Selain itu, pada proses seleksi berkas, kita tidak diperkenankan untuk memberikan informasi tambahan selain yang disyaratkan dalam website kedutaan jepang.

Hal ini terjadi ketika saya mengantarkan dokumen langsung ke kedutaan jepang. saat itu saya hanya memiliki waktu 1 minggu untuk mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan. Saya mengantarkan dokumen-dokumen yang diminta langsung ke kedutaan jepang pun sangat mendadak, yaitu H-1 sebelum deadline. Sesampainya saya disana, saya diminta untuk membuka dokumen yang saya bawa dan mengikuti susunan yang mereka instruksikan. Saat itu ada beberapa dokuman tambahan yang “mereka buang”(mimnta untuk diambil kembali dan tidak bisa dilampirkan) dihadapan saya. Dokumen tambahan yang saya maksud adalah rekap komunikasi email saya dengan prof, surat keterangan sehat, CV, dll yang saya maksudkan sebagai “nilai tambahan” dari proses seleksi awal.

Namun pihak kedutaan meminta saya untuk melepaskan dokumen tersebut dan tidak menyertakannya dalam aplikasi saya. Saat itu saya juga salah meng copy jumlah dokumen. Saya seharusnya memeberikan 5 rangkap dokumen (1asli, 4 copy), namun saya hanya memberikan 1 asli, 3 copy. Karena waktu yang mendadak, sayapun tidak sempat memperbanyak dokumen dan harus menyerahkan semua dokumen saat itu juga atau tidak sama sekali.  Saat saya melihat kekurangan kekurangan yang saya buat, sejujurnya saya sudah merasa sangat hopeless untuk bisa lolos ke seleksi tahap yang ke 2. Mengambil sisi positif dari hal yang terjadi, pengalaman itupun membuat saya belajar untuk bisa lebih teliti dan tidak terburu buru dalam menyiapkan sesuatu. Selain itu, dengan kondisi penyerahan dokumen yang sangat terstandar, saya melihat bahwa proses penilaian yang mereka lakukan untuk beasiswa ini di buat se-unaited mungkin. Aspek yang dinilai pada setiap peserta adalah sama.

Tahap 2 tes tertulis dan wawancara

Selang beberapa waktu, tanpa di duga, saya mendapatkan telfon dari kedutaan Jepang untuk mengikuti seleksi tahap selanjutnya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, dari 500 orang pelamar hanya 70 orang yang memasuki tahap 2 ini. Itulah mengapa lulus untuk seleksi wawancara merupakan sebuah pencapaian yang besar.

a)      Tes tertulis

Dikarenakan kesibukan saya yang lainnya, saya hanya memiliki 1 hari untuk bisa mempersiapkan tes tertulis beasiswa ini. Tes ini terdiri dari dua tipe, yaitu tes bahasa inggris dan tes bahasa Jepang. dikarenakan saya tidak memiliki basic bahasa Jepang, maka saya memfokuskan persiapan saya pada soal soal bahasa inggris dari ujian ujian tahun sebelumnya. saya sama sekali tidak belajar untuk bahasa jepang, bahkan soal dan kunci jawabannyapun tidak saya download. Saya mengetahui dengan pasti bahwa tidak memungkinkan bagi saya dengan waktu yang singkat untuk mempelajari semua materi bahsa jepang. Maka dari itu, persiapan pun saya fokuskan pada materi bahasa inggris. Untunglah saat itu saya dibantu oleh teman English club saya, Pamela, dan temannya, Rori, utuk menngerjakan soal soal tes tertulis bahasa inggris.

Pada ujian tertulis, kita tetap harus mengikuti tes tertulis untuk bahasa jepang. Saat itu saya mencurahkan semua kemampuan saya di bahasa inggris. Meskipun demikian, saya tetap mengisi penuh lembar jawaban untuk tes bahasa jepang. Tes tertulis bahasa jepang ini terbagi kedalam 3 bagian : beginner, intermediate, advance. Untuk soal intermediate dan advance, saya menjawab dengan tidak melihat soal.  Saya langsung saja menulis A-E di lembar jawaban secara acak. Jangankan untuk menjawab dengan benar, soalnyapun saya tidak bisa membacanya. Saya betul betul tidak punya pilihan.

Meskipun demikian, jangan menyepelekan tes ini. Karena sudah sepatutnya kita tidak menganggap remeh sesuatu yang kita ketahui “cara mudahnya”. Peluang kita untuk mendapatkan beasiswa akan jauh lebih besar jika kita bisa melewati ujian tertulis ini dengan nilai yang baik. Akan lebih baik jika sebelumnya kita memang telah memiliki basic bahasa Jepang sehingga jawaban yang kita berikanpun akan memberikan nilai tambah dari penilaian selama proses seleksi dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.

b)      Tes wawancara

Saat saya melewati tes wawancara, saya meniatkan tes ini adalah kesempatan bagi saya untuk belajar berbahasa inggris (conversation). Apapun hasilnya nanti, yang terpenting bagi saya saat itu adalah saya telah mendapatkan sebuah kesempatan untuk belajar. Belajar melakukan conversation, mengetahui bagaimana rasanya menempuh wawancara untuk beasiswa, dan hal yang paling penting adalah menambah teman. Saya ingin meskipun hal yang saya lewati adalah sebuah persaingan, namun saya juga mampu menambah persahabatan. Sejujurnya, pola pikir ini terinspirasi dari filem Hunter x Hunter yang saya tonton berulang ulang.

Di filem ini, salah satu tokoh utamanya, Gon, mampu mendapatkan kepercayaan seorang teman dan bahkan mendapatkan sahabat dari ujian hunter yang memiliki suasana persaingan sangat tinggi. Menurut saya, Gon mampu melakukan hal tersebut karena dia menikmati semua proses yang ada. Karena itulah sayapun berusaha menikmati proses seleksi ini. Saya ingin, meskipun saya gagal nanti, namun saya tetap mendapatkan teman teman baru. Dan sayapun mendapatkannya, allhamduliah. 🙂

Selama tes berlangsung, setiap orang mendapatkan giliran wawancara yang berbeda beda. Setiap sesi wawancara sendiri terdiri dari 5-7 orang kalau saya tidak salah. Saya mendapatkan giliran sebagai orang kedua yang di wawancara oleh 4 orang penguji (2 orang jepang dan 2 orang lagi akademisi Indonesia). Kawan kawan saya bilang bahwa wawancara saya sangat lah singkat. Saat itu kebanyakan pertanyaan yang diajukan adalah seputar riset yang akan saya lakukan di Jepang.

Karena saat itu saya sudah selesai menyusun proposal riset saya yang disetujui oleh pembimbing saya dijepang, maka allhamdulilah pertanyaan-pertanyaan seputar riset ini bisa dilalui dengan baik. sejujurnya, saya sendiri bahkan merasakan bahwa para juri sedikit ‘kehabisan pertanyaan’, karena saya harus menunggu beberapa saat sebelum pertanyaan-pertanyaan selanjutnya ditanyakan. Bahkan sebelum saya selesai wawancarapun, saya harus menunggu beberapa saat sebelum juri memutuskan untuk mengakhiri sesi wawancara saya. Hal yang saya lakukan ketika wawancara adalah memperlihatkan diri saya apa adanya.  Karena saya “meniatkan” ujian ini sebagai pembelajaran, maka saya merasa bisa bersikap lebih apa adanya dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan.

Tahap 3 rekomendasi kedutaan


Dari 70 orang yang lulus seleksi tahap 1 dan melawati tahap ke 2, akan diambil sekitar 30 orang atau sekitar 40% dari tahap sebelumnya (saya tidak mengetahui jumlah pasti untuk tahap ini, data ini saya dapat dari informasi tahun 2010), atau sekitar 6% secara keseluruhan tes untuk mendapatkan rekomendasi dari kedutaan. Hal ini bukan merupakan presentase yang akurat dan hanya berupa gambaran kasar. Hakekatnya, penguji akan meloloskan orang-orang yang dinilai kompeten untuk mendapatkan beasiswa ini.  Jika telah mendapatkan rekomendasi ini, maka peluang kita untuk mendapatkan beasiswa ini hampir 93-96%. Tahun 2010, dari 30 orang yang lulus, 28 yang berangkat ke Jepang di tahun berikutnya.  Sekali lagi saya ingatkan bahwa hasil ini bukanlah hasil seleksi untuk master saja, namun hasil kelulusan untuk beasiswa S2 dan S3. Maka kelulusan tahap ini merupakan sebuah pencapaian yang sangat besar dari beasiswa MEXT dan peluang untuk berangkatpun sangatlah besar. Allahpun masih memberikan jalan pada saya untuk mendapatkan kesempatan besar ini. Di tahap ini kita masih harus mengirimkan beberapa dokumen ke jepang (tahap 4) dengan peluang kelulusan yang telah saya sebutkan diatas. Semua dokumen aplikasi yang dibutuhkan hampir mirip dengan dokumen yang diminta pada seleksi awal di tahap 1 dan mungkin ada beberapa dokumen tambahan.

Tahap 4 final

Di tahap ini dokumen yang diminta setelah lulus selaksi dari kedutaan akan dikirim ke Jepang untuk seleksi internasional. Meskipun demikian, kesempatan untuk mendapatkan scholarship ini sangatlah besar jika telah mendapatkan rekomendasi dari pihak kedutaan. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, dari 30 orang yang lulus tahap ke 3 sekitar 28-29 orang yang akan lulus pada tahap ini.

Saya berikan satu “rahasia” saya ketika melewati semua tahapan ini. Meskipun waktu yang saya miliki sangatlah singkat, saya selalu memulai semua persiapannya dengan sebuah doa“ ya allah, semoga engkau berkenan menjadikan apa yang hamba lakukan kini, esok dan seterusnya, adalah jalan untuk kian mendekatkan diri hamba kepadaMU”.  Di detik detik terakhir pun, tetap kita harus memberikan usaha yang maksimal dalam mempersiapkan ujian yang akan dihadapi. Ketika allah meluluskan saya di tahap manapun maka saya meyakini bahwa hal ini adalah hal terbaik yang mampu mendekatkan saya kepada Allah.

Bagaimana kisah saya mendapatkan scholarship yang lainnya dari negara yang berbeda dengan cara yang berbeda pula, akan saya ceritakan di postingan selanjutnya. Semoga Allah ridha untuk memberikan manfaat bagi yang membacanya.

Advertisements

4 thoughts on “[curhat] Sebuah keputusan besar –part 3: Beasiswa Mombukagakusho (MEXT) research student

  1. hallo 🙂 saya dapat professor karena beliau kebetulan mengadakan kuliah tamu di kampus saya dulu (ITB). kemudian saya melakukan korespondensi dengan beliau dan mendapatkan LOA baru kemudian saya applied untuk beasiswa MEXT 🙂

  2. hallo, sekarang kakak ada di jepang atau taiwan? karena sebelumnya saya pernah membaca kalo kakak juga diterima diNTUST..apakah kakak meninggalkan NTUST dan pindah ke Jepang?

  3. saya sekarang di indonesia… jadi waktu itu saya milihnya untuk lanjut kuliah di Taiwan… pakai beasiswa yang diberikan saya prof…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s